Dihadapan Mendagri, Andi Sudirman Paparkan Program Penanganan Inflasi

- Jumat, 27 Januari 2023 | 21:34 WIB
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, memaparkan penanganan inflasi kepada Mendagri, Tito Karnavian, di Makassar, Jumat (27/1/2023). (Humas Kemendagri)
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, memaparkan penanganan inflasi kepada Mendagri, Tito Karnavian, di Makassar, Jumat (27/1/2023). (Humas Kemendagri)

INFO INDONESIA. MAKASSAR - Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, memberikan pemaparan terkait penanganan inflasi kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, di Makassar, Jumat (27/1/2023).

Dihadapan Mendagri, Andi Sudirman menjelaskan, inflasi Sulsel pada Desember 2022 adalah 5,77 persen (yoy), di mana ada tiga komoditi yang memberi andil terbesar, yakni bensin, angkutan udara dan telur ayam ras.

Andi Sudirman mengatakan, untuk penanganan inflasi, Pemprov Sulsel telah menyalurkan bantuan sosial, termasuk untuk ojek, UMKM dan nelayan, penciptaan lapangan kerja, hingga subsidi sektor transportasi umum.

Dia juga memaparkan beberapa capaian sektor ekonomi dan kesehatan di Sulsel kepada Mendagri, mulai dari ekspor yang naik 40,63 persen atau mencapai Rp34,44 triliun.

Lalu, bantuan program Mandiri Benih yang sukses meningkatkan produksi padi menjadi 5,34 juta ton atau naik 4,92 persen. Hal ini membuat Sulsel menjadi daerah dengan surplus beras tertinggi di Indonesia.

Baca Juga: PAD Capai 57,25 Persen, Mendagri Sebut Komposisi APBD Sulsel 2023 Tergolong Kuat

Sementara itu, Mendagri, Tito Karnavian, menekankan beberapa hal yang harus dilakukan dalam penanganan inflasi di Sulsel.

“Jika inflasi itu di bawah 10 persen, artinya masih termasuk ringan, berarti kenaikan barang dan jasa belum terasa. Sendi-sendi ekonomi masih kuat, tapi jika sudah di angka 11-30 persen, berarti sudah masuk sedang dan kenaikan harga mulai terjadi goncangan,” ungkap Mendagri.

Mendagri menambahkan, ketika angka inflasi 31-100 persen, artinya sudah masuk di angka berat, sehingga masyarakat akan sangat merasakan dampak kenaikan harga dan sendi-sendi ekonomi akan terguncang. Lalu, ketika inflasi telah masuk diangka 100 persen, artinya hiperinflasi seperti yang pernah terjadi di Srilanka.

“Mengapa kita perlu atensi kepada inflasi? Karena ini masalah harga barang dan jasa. Isu yang paling utama bagi masyarakat adalah ketersediaan dan keterjangkauan harga barang dan jasa. Terutama barang pokok. Karena ini bisa menjadi gangguan politik sosial keamanan,” tegas Tito.

Baca Juga: Azwar Anas: Pemerintah Transformasi Jabatan Fungsional Lewat Permen PANRB 1/2023

Dia kemudian memberikan solusi yang harus dilakukan setiap daerah, termasuk di Sulsel, dalam menjaga agar angka inflasi tidak naik dan memengaruhi perekonomian.

“Kita harus menjaga supply dan tahu persis barang apa yang naik dan bagaimana cara membuat harganya itu turun dan dijangkau masyarakat. Supply-nya harus cukup,” tutur Mendagri.

Selain ketersedian barang dan jasa, Tito juga menyebut bahwa pemerintah daerah harus pandai-pandai melihat ketersediaan BBM, tarif angkutan umum, tarif air minum maupun makanan.

Halaman:

Editor: Rusdiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen Ombudsman Dilantik Jadi Pj Gubernur Babel

Jumat, 31 Maret 2023 | 11:58 WIB

Gubernur Kaltim Siap Diperiksa BPK

Kamis, 30 Maret 2023 | 08:57 WIB
X