Pro Palestina Sekaligus Menerima Kesebelasan Israel

- Rabu, 29 Maret 2023 | 21:58 WIB
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA.
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA.

INFO INDONESIA. JAKARTA – Kontroversi kehadiran Timnas Israel di Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia mengingatkan publik tentang perbedaan Diplomasi Lama versus Diplomasi Baru, di mana aktor penting internasional masa kini bukan hanya sebuah negara nasional.

Begitu disampaikan oleh Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (29/3/2023).

Dia menjelaskan, saat ini tumbuh berkembang begitu banyak aktor non-state berupa organisasi independen yang terlepas dari kepentingan negara nasional, misalnya Federasi Sepak Bola Dunia atau FIFA. Aktor non-state ini ikut mewarnai pergaulan dunia dengan diplomasi baru yang berbeda dengan diplomasi lama, serta memberi tempat yang lebih luas bagi peran aktor non-state itu.
FIFA adalah contoh aktor non-state yang punya pengaruh di dunia untuk sepak bola.

Selain FIFA, contoh aktor non-state lainnya adalah Palang Merah untuk isu Kesehatan, hingga Amnesty International untuk isu HAM.

“Aktor non-state ini memiliki cabang di banyak negara. Kepentingan mereka adalah kepentingan profesi. Kadang kepentingan mereka tak harus sama dengan kepentingan nasional,” jelas Denny JA.

Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena ini mengatakan, negara yang menganut diplomasi baru lebih toleran atas peran aktor non-state. Pasalnya, negara itu menyadari bahwa dunia internasional ini bukan hanya milik negara nasional, namun ada peran para individu dan organisasi, lembaga perdagangan, civil society, forum budaya, festival seni dan organisasi olah raga juga punyak hak berperan dalam pergaulan internasional.

Denny JA menyoroti terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 yang di saat bersamaan Timnas Israel lolos sebagai satu dari 24 pesertanya yang menjadi wakil dari Benua Eropa. Hal itu merupakan konsekuensi bagi Indonesia sebagai negara yang mengajukan diri jadi tuan rumah event berskala internasional, namun di sisi lain juga dituntut tetap mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel.

“Di era diplomasi baru, sebuah negara tetap bisa pro kepada kemerdekaan Palestina. Tapi negara itu memberikan kebebasan kepada PSSI di bawah FIFA bergerak dengan aturannya sendiri,” ujar Denny JA.

Dia berpendapat, bisa terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah sebuah kehormatan bagi negara anggota FIFA. Pasalnya, sebagai olah raga yang penggemarnya sama banyaknya dengan penganut agama besar, menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA membuat Indonesia akan menjadi perhatian dunia.

Oleh karena itu, sambungnya, konsekuensi dari menjadi tuan rumah Piala Dunia yang tak bisa dihindari Indonesia adalah mengikuti aturan FIFA, termasuk menerima Timnas Israel untuk bertanding, meski banyak terjadi penolakan. Sebab, bagaimanapun, Timnas Israel adalah anggota FIFA yang sah yang lolos setelah melalui seleksi.

“Walaupun kebijakan nasional Indonesia pro kemerdekaan Palestina, dan anti pendudukan Israel. Walaupun tak ada hubungan diplomatik Indonesia dan Israel. Itu tak bisa mengubah aturan FIFA bahwa negara yang lolos seleksi seperti Israel tetap harus bermain di negara tuan rumah,” terang Denny JA.

Dia pun sependapat dengan sebagian besar rakyat Indonesia yang mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina. Apalagi, Indonesia juga patut berterima kasih atas peran Palestina dalam pengakuan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terlebih, konstitusi Indonesia menyatakan hak kemerdekaan itu milik segala bangsa.

“Kita harus bangga dengan sikap Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina. Apalagi, Indonesia secara resmi ikut dalam Two State Solution bagi berdirinya dua negara merdeka di Timur Tengah, Israel dan Palestina. Tapi, perjuangan dan pilihan kebijakan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina tak ada hubungan dengan peristiwa olah raga sepak bola FIFA,” ungkap Denny JA.

Dia Kembali mengingatkan soal diplomasi lama yang tak bisa dipakai dalam kasus Piala Dunia FIFA U-20 2023. Diplomasi baru tidak memaksakan sebuah organisasi internasional untuk tunduk kepada pilihan politik sebuah negara nasional yang menjadi tuan rumah.

Halaman:

Editor: Rusdiyono

Tags

Terkini

Kesantunan Bermedsos

Jumat, 12 Mei 2023 | 23:00 WIB

Mengembalikan Fitrah Informasi

Jumat, 28 April 2023 | 23:45 WIB

Lebaran Bersama Muhammadiyah dan NU

Kamis, 20 April 2023 | 22:52 WIB

Kurikulum Merdeka dan Madrasah Mandiri-Berprestasi

Minggu, 16 April 2023 | 16:10 WIB

Memoderasi Tradisi Membangunkan Sahur

Senin, 10 April 2023 | 06:37 WIB

Untuk Dikerjakan Serius, Bukan Dibicarakan Terus

Jumat, 7 April 2023 | 14:31 WIB

Beragama di Era Google

Senin, 3 April 2023 | 08:52 WIB

Ramadhan dan Dakwah Transformatif

Jumat, 31 Maret 2023 | 19:08 WIB

Agama dan Sustainable Development Goals (SDGs)

Selasa, 28 Maret 2023 | 07:00 WIB

Jalan Tengah: Memberi dan Memberi

Senin, 27 Maret 2023 | 14:30 WIB

Mengapa Berpuasa?

Minggu, 26 Maret 2023 | 14:50 WIB

Pesantren dan Tradisi Lapis Spiritual

Jumat, 24 Maret 2023 | 14:26 WIB

Perselisihan Sastra Atau Politik

Jumat, 17 Maret 2023 | 00:09 WIB

Mimpi Prabowo dan Fenomena Anies

Senin, 6 Maret 2023 | 18:50 WIB
X