Kekerasan Wacana Ade Armando

- Rabu, 13 April 2022 | 17:30 WIB

BANYAK orang mengutuk kekerasan dan penganiayaan Ade Armando, tapi lupa bagaimana kekerasan wacana membabi buta dilakukan terus menerus olehnya. Saya tentu tidak pro kekerasan, baik fisik maupun wacana.

Hanya saja, seperti kata Pramoedya Ananta Toer yang terkenal "adil sejak dalam pikiran," maka begitu juga mendudukkan kasus yang menimpa Ade Armando. Tidak serta-merta mengutuk mereka yang melakukan kekerasan fisik, sementara membiarkan kekerasan wacana terjadi sebelumnya. Singkatnya, kekerasan wacana dan kekerasan fisik sama bahayanya.

Kekerasan fisik, semua sudah tahu. Sementara, kekerasan wacana, mungkin perlu penjelasan sedikit. Terkait wacana, saya meminjam pengertian yang dipaparkan Prof. Ibnu Hammad dalam buku _Komunikasi Sebagai Wacana_ (2010) bahwa dirasakan atau tidak, sebagian besar, kalau tidak dikatakan seluruhnya, ketika berkomunikasi, sesungguhnya kita sedang membangun wacana
_(discourse),_ yaitu tindakan menggunakan bahasa sesuai kaidah tata bahasa tetapi kita masukkan ke dalamnya unsur-unsur non-bahasa.

Di sini kita tidak lagi sekadar berkata atau menulis ketika hendak menyampaikan pesan. Kita bukan sebatas mengikuti tata bahasa ketika menggunakannya berkomunikasi. Kita menambahkan unsur-unsur non-bahasa entah itu kepentingan pribadi, ekonomi, politik ataupun ideologi ke dalam bahasa. 

Melihat pemahaman demikian, jelas jejak wacana Ade Armando sangat problematis. Di media sosial dia dengan frontal misalnya menyerang kelompok lain yang dinilai berseberangan pandangan dengannya. Juga, sering melontarkan wacana keagamaan yang kontroversial, yang tidak sesuai dengan kapasitasnya. Dia bukan ahli agama, tapi sering melontarkan pernyataan seolah seorang ulama besar yang punya segudang kapasitas.

Contoh, dia pernah bilang tidak ada perintah salat lima waktu tertulis di dalam Al-Quran, azan tidak suci, azan itu cuman panggilan salat, sering tidak merdu. Di Facebook dia pernah menulis "Orang pintar milih Ahok. Orang bodoh milih Anies. Jadi kalau sekarang Ahok kalah artinya jumlah orang bodoh jauh lebih banyak daripada orang pintar." 

Di lain kesempatan bilang bahwa tidak ada ayat Al-Quran yang mengharamkan perilaku LGBT, bilang juga Allah bukan orang Arab, mengunggah meme Habib Rizieq bersama sejumlah ulama mengenakan topi Santa Claus. Dan ini yang perlu dicatat, dia benarkan polisi dalam kasus _unlawful killing_ (pembunuhan di luar hukum) atas kasus penembakan di KM 50 Tol Cikampek yang menewaskan 6 pemuda laskar FPI.  Dalam artian, untuk yang berseberangan pandangan, dia ternyata pro kekerasan (fisik) juga. Artinya pula, di sini ada standar ganda. 

Terkait kekerasan wacana yang dia lakukan, sejauh ini Ade Armando aman-aman saja. Seolah tidak pernah tersentuh hukum. Pernah beberapa kali dilaporkan ke polisi, tapi sampai sekarang tidak pernah jelas kelanjutannya.

Rekam jejak Ade Armando sendiri sebenarnya bagus ketika menjadi akademisi komunikasi. Aktif dalam gerakan literasi media. Dulu pernah aktif di MARKA (Media Ramah Keluarga), aktif menulis kolom dan menjadi pembicara publik. Buku berjudul _Televisi Jakarta Di Atas Indonesia_ dan _Televisi Indonesia Di Bawah Kapitalisme Global_ ditulisnya. Hanya saja, kiprahnya dalam isu agama sejak bergabung dan aktif di JIL (Jaringan Islam Liberal) membuatnya banyak lahirkan kontroversi. Apalagi beberapa tahun terakhir aktif sebagai "Buzzer" politik memaksanya terus membuat beragam konten. Termasuk konten "Pansos" pada aksi mahasiswa pada 11 April 2022 di DPR yang berujung pengeroyokan.

Halaman:

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo

Terkini

Waktunya Pemimpin di Banten Muhasabah Diri

Selasa, 6 Desember 2022 | 16:56 WIB

Aspek Gender Dalam Mitigasi Bencana

Selasa, 6 Desember 2022 | 15:51 WIB

KIB dan Harapan Rakyat Menuju 2024

Senin, 5 Desember 2022 | 14:37 WIB

Menjadi Pemantau Pemilu Adalah Wujud Kecintaan Pada NKRI

Selasa, 29 November 2022 | 06:40 WIB

Partai Politik Vs Organisasi Relawan

Kamis, 3 November 2022 | 15:06 WIB

Kepala BPOM yang Paling Tepat Bertanggung Jawab

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 23:38 WIB

Saran Komunikasi Kepada Polri

Minggu, 16 Oktober 2022 | 11:30 WIB

Tragedi Kanjuruhan dan Generasi Pancasila

Kamis, 6 Oktober 2022 | 13:22 WIB

Kita Masih Butuhkan Indonesia

Jumat, 30 September 2022 | 16:00 WIB

Resesi Global, The Fed, dan Ketahanan Perbankan Kita

Jumat, 23 September 2022 | 12:06 WIB

Ancaman Pidana Mati Untuk Ferdy Sambo

Senin, 12 September 2022 | 13:14 WIB
X