Bangsa Kita Baru di Tahap Pertama Fase Sadar Diri

- Rabu, 6 Juli 2022 | 12:30 WIB

KITA sebagai bangsa sedang menjalani tiga tahap sadar diri sebagai bangsa. Pertama, sadar atas kegelapan dan kesuraman diri. Kedua, sadar keterbatasan diri. Ketiga, sadar diri untuk pelepasan ego, untuk menuju jatidiri.

Saat ini, kita berada pada transisi dari sadar kegelapan dan kesuraman diri ke kesadaran penuh atas keterbatasan diri. Hal ini ditandai oleh beberapa gejala psikologis dan sosiologis.

Rasa gampang putus asa, berkeluh kesah dan tidak berpikir konstruktif, dan mementingkan diri sendiri. Merasa kita sebagai bangsa sedang terpuruk dan terhina. Bukan itu saja. Kebingungan dan disorientasi massal juga terjadi di masyarakat. Merasakan ada masalah dan merasakan kalau bangsa sedang alami krisis nasional, namun tak tahu apa akar masalahnya, apalagi nemukan solusinya.

Frase kalimat yang sering saya dengar bahkan dari kalangan intelektual dan akademisi adalah "mau dibawa kemana bangsa ini?" Curhatan dari elit masyarakat itu menggambarkan bangsa kita masih berkutat di tahap satu dan dua. Kalau para elit yang sejatinya cermin ego peradaban bangsa aja kerap masih bertanya seperti itu, berarti kan bangsa masih pada taraf di alam kegelapan dan kekelaman. Segalanya serba ragu dan putus asa.

Penanda lainnya kalau kita masih di tahap sadar kegelapan dan kesuraman diri dan sadar keterbatasan diri, bisa dilihat dari dangkalnya karya karya sastra, film, musik dan teater.

Kalangan agamawan dan ulama, materi materi dakwahnya belum menggugah umat untuk mempunyai kesadaran baru dan membebaskan diri dari belenggu pengetahuan palsu. Di kalangan akademisi dan ilmuwan, tak ada karya-karya ilmiah yang berasal dari temuan-temuan baru melalui penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif.

Dan terakhir. Para pemimpin dan politisi partai masih menanamkan suatu pandangan bahwa gagasan dan cara-cara lama masih baik dan layak untuk diteruskan. Dan masih dianggap benar.

Selain itu, para pemimpin dan politisi masih didorong insting mementingkan diri sendiri. Politik dipandang sebagai arena persekongkolan dan manipulasi.

Tahap sadar kegelapan dan kesuraman ke tahap sadar keterbatasan diri, ditandai mulai menggeliatnya kesadaran baru bahwa semua kenyaataan yang lama ternyata tak berguna. Bahkan menghancurkan. Berbagai pendekatan lama yang selama ini kita anut dan terapkan, dipandang tidak tepat lagi. 

Halaman:

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo

Terkini

Waktunya Pemimpin di Banten Muhasabah Diri

Selasa, 6 Desember 2022 | 16:56 WIB

Aspek Gender Dalam Mitigasi Bencana

Selasa, 6 Desember 2022 | 15:51 WIB

KIB dan Harapan Rakyat Menuju 2024

Senin, 5 Desember 2022 | 14:37 WIB

Menjadi Pemantau Pemilu Adalah Wujud Kecintaan Pada NKRI

Selasa, 29 November 2022 | 06:40 WIB

Partai Politik Vs Organisasi Relawan

Kamis, 3 November 2022 | 15:06 WIB

Kepala BPOM yang Paling Tepat Bertanggung Jawab

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 23:38 WIB

Saran Komunikasi Kepada Polri

Minggu, 16 Oktober 2022 | 11:30 WIB

Tragedi Kanjuruhan dan Generasi Pancasila

Kamis, 6 Oktober 2022 | 13:22 WIB

Kita Masih Butuhkan Indonesia

Jumat, 30 September 2022 | 16:00 WIB

Resesi Global, The Fed, dan Ketahanan Perbankan Kita

Jumat, 23 September 2022 | 12:06 WIB

Ancaman Pidana Mati Untuk Ferdy Sambo

Senin, 12 September 2022 | 13:14 WIB
X