KPK Periksa Pihak Swasta Terkait Dugaan Aliran Uang ke Keluarga Nurhadi

- Rabu, 6 Juli 2022 | 11:48 WIB
Pelaksana Tugas (Plt.) Juru Bicara KPK Ali Fikri. (Net)
Pelaksana Tugas (Plt.) Juru Bicara KPK Ali Fikri. (Net)

INFO INDONESIA. JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan pemeriksaan terhadap saksi dari pihak swasta, Hindria Kusuma terkait dugaan adanya aliran uang yang diterima keluarga mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, pemerisaan terhadap Hindria dilakukan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (5/7/2022), dalam penyidikan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pengurusan perkara di MA.

"Yang bersangkutan hadir dikonfirmasi pengetahuan saksi, antara lain, terkait dengan dugaan adanya aliran uang yang diterima oleh keluarga tersangka NHD (Nurhadi)," kata Ali dalam keterang kepada wartawan, Rabu (6/7/2022).

Pada hari yang sama, KPK juga memeriksa tiga saksi lainnya. Namun ketiganya tidak memenuhi panggilan tim penyidik. Mereka adalah, Dion Hardie Tandi, Soepriyo Waskito Adi, dan Yoga Dwi Hartiar. Ketiganya dari pihak swasta.

"Ketiga saksi mengonfirmasi tidak bisa hadir, akan dijadwal ulang," kata Ali.

Kasus dugaan TPPU itu merupakan pengembangan dari kasus suap dan gratifikasi terkait dengan perkara di MA pada tahun 2011—2016 yang menjerat Nurhadi bersama Rezky Herbiyono dari pihak swasta atau menantu Nurhadi dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto.

KPK belum mengumumkan konstruksi perkara serta tersangka dalam kasus tersebut. Pengumuman tersangka setelah penyidikan dianggap cukup.

KPK telah mengeksekusi Nurhadi dan menantunya ke Lapas Sukamiskin, Bandung. Eksekusi itu berdasarkan putusan MA RI Nomor: 4147 K/Pid.Sus/2021 tanggal 24 Desember 2021 juncto putusan Pengadilan Tipikor pada PT DKI Jakarta Nomor: 12/PID.SUS-TPK/2021/PT DKI tanggal 28 Juni 2021 jo. Putusan Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat Nomor: 45/Pid.Sus-TPK/2020/PN.Jkt.Pst tanggal 10 Maret 2021.

Nurhadi dan menantunya menjalani pidana penjara selama 6 tahun. Keduanya juga dijatuhi pidana denda sebesar Rp500 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar akan diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

X