EKONOMI

Ahok Jual Solar Murah ke Malaysia

LEBIH MURAH-Kapal MT Ridgebury Katherine Z yang mengekspor minyak diesel HSD ke Malaysia, berangkat dari Pelabuhan Kilang Minyak Pertamina di Balikpapan, Kaltim. (FOTO: DOK PERTAMINA)
LEBIH MURAH-Kapal MT Ridgebury Katherine Z yang mengekspor minyak diesel HSD ke Malaysia, berangkat dari Pelabuhan Kilang Minyak Pertamina di Balikpapan, Kaltim. (FOTO: DOK PERTAMINA)


JAKARTA – PT Pertamina (Persero) mengekspor 200 ribu barel atau 31,8 ribu kiloliter (kl) minyak diesel kecepatan tinggi (High Speed Diesel/HSD) ke Malaysia. Nilai ekspor solar HSD tersebut mencapai USD 9,5 juta.

Kargo HSD tersebut dikirim melalui Pelabuhan Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur dengan kapal MT Ridgebury Katherine Z.

”Ini ekspor perdana, nanti di Oktober dan Desember dengan tujuan pasar internasional, juga ada ekspor dengan volume yang sama,” kata General Manager Refinery Unit (Kilang) V Balikpapan Eko Sunarno dikutip dari Antara, Sabtu (5/9/2020).

Menurut Eko, HSD yang diekspor Pertamina ini memiliki standar Euro 4 yang ramah lingkungan dan membuat mesin lebih awet. Kandungan sulfur atau belerangnya hanya 50 ppm (part per million).

Sulfur adalah satu zat pencemar utama di udara yang bisa menjadi penyebab gangguan sistem pernapasan manusia dan menjadi bahan terbentuknya hujan asam kalau jumlahnya terakumulasi sangat banyak.


Dengan nama dagang HSD 0,005%S, produk ini diproduksi di Kilang Balikpapan sebanyak 200 ribu barel per bulan. Titik bakarnya di suhu 60 derajat Celcius dengan angka cetane atau cetane number-nya adalah 53.

Sebagai pembanding, Pertadex yang juga diproduksi Pertamina, juga memiliki cetane number 53, sementara Solar biasa cetane numbernya 51.

Spesifikasi tersebut sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017 yang menetapkan spesifikasi bahan bakar minyak yang diizinkan untuk diperdagangkan, di mana cetane number minimal 51 dan kandungan belerang 50 ppm.

”Kami bangga Pertamina bisa memproduksi minyak berkualitas tinggi seperti ini,” kata Eko Sunarno.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resource Indonesia (CERI) Yusri Usman mengkalkulasi, jika dihitung kurs tengah BI yang berlaku September 2020, Rp 14.750, dan harga HSD yang dijual USD 47,5 per barel. Maka harga jual per liter HSD itu Rp 4,407 per liter ke Malaysia..

Dikatakan Yusri, produk HSD yang berstandar Euro 4 itu jauh lebih baik, dibandingkan Pertadex. Ironinya, harga jual Pertadex dijual seharga Rp 10,200 per liter di SPBU Pertamina.

Jika menghitung harga keekonomian BBM Pertadex sesuai Kepmen ESDM Nomor 62 K/12/MEM/2020 yang ditandatangani oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 28 Febuari 2020, maka rumusan perhitungan adalah 10/90x(MOPS atau Argus HSD + Rp 2000/liter).

”Sehingga kalau dimasukan angka HSD Rp 4,407 per liter, maka harga jual Pertamina Dex yang wajar di SPBU sekitar Rp 7.000 per liter, karena masih standar Euro 3,” ulas Yusri.

Yusri pun kaget dengan sikap perusahaan milik negara tersebut. Menurutnya, sangat lucu ketika perusahaan milik negara yang Komisaris Utamanya sekarang adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menjual BBM kepada masyarakat dengan harga terlampau tinggi. Namun, malah menjual BBM Solar diesel setara Euro 4 jauh lebih murah ke Malaysia.

Dengan sikap seperti, maka wajar saja publik bingung, dengan laporan Pertamina yang mengaku dapat rugi pada Semester I 2020, mencapai Rp 11,13 triliun.

”Karena di dunia, sejak pandemi Covid-19, hanya Pertamina yang tak menurunkan harga BBM sepeser pun di SPBU. Makanya benar kata Ahok, merem saja Pertamina pasti untung. Berani jujur hebat!,” tutup Yusri. (ra)


Video Terkait:
Ahok: Lima Tahun Ke Depan SPBU Pertamina Bakal Sepi Pelanggan
Editor: Redaksi