DAERAH

Kegiatan Operasi DVI Korban Kecelakaan Sriwijaya SJ 182 Dipusatkan di RS Kramat Jati

Posko penerimaan data Post Mortem di RS Polri Bhayangkara Tingkat I Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur untuk korban Lion Air JT 610 beberapa waktu lalu. (Aprilia Rahapit/InfoIndonesia)
Posko penerimaan data Post Mortem di RS Polri Bhayangkara Tingkat I Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur untuk korban Lion Air JT 610 beberapa waktu lalu. (Aprilia Rahapit/InfoIndonesia)

INFOINDONESIA. JAKARTA – Pasca Sriwijaya Air SJ 182 Rute Jakarta-Pontianak dikabarkan hilang kontak pada pukul 14.40 WIB, Sabtu (9/1/2021). RS Polri Bhayangkara Tingkat I Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur telah membuka posko identifikasi Ante Mortem (AM) dan Post Mortam (PM).

“Dari semalam sudah dibuka posko AM maupun PM. Proses evakuasi dan pencarian korban masih berlangsung. Kegiatan operasi DVI akan dipusatkan di RS Bhay. Tk I RS Soekanto Kramat Jati Jaktim,” ujar Disaster victim investigation (DVI) Pusat Dokter Kesehatan Polri Ahmad Fauzi saat dihubungi INFOINDONESIA, Minggu (10/1/2021).

Ia juga telah mempersilahkan bagi keluarga korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 untuk memberikan data-data dokumen seperti Kartu Keluarga serta ijazah. Adapun jika ada keluarga juga bisa membawa data perawatan gigi atau hasil rontgen gigi korban

Fauzi juga mengonfirmasi telah menerima satu kantong jenazah, namun kantong tersebut belum diketahui apakah berisi mayat atau puing-puing pesawat. Pengecekan kantong itu akan dilakukan melalui proses Post Mortem (PM) sebagai pelengkap pengumpulan data-data korban.

Pesawat Sriwijaya SJY 182 dikabarkan hilang kontak setelah take off dari Bandara Soekarno Hatta menuju Pontianak pada pukul 14.36 WIB. Pesawat itu pada pukul 14.37 WIB telah melewati 1700 kaki dan melakukan kontak dengan Jakarta Approach. Pesawat diizinkan naik ke ketinggian 29.000 kaki dengan mengikuti Standard Instrument Departure.


Kemudian pada Pukul 14.40 WIB, Jakarta Approach melihat pesawat Sriwijaya Air tidak ke arah 075 derajat melainkan ke Barat Laut (North West), oleh karenanya ditanya oleh ATC untuk melaporkan arah pesawat.

Kemudian dalam hitungan detik, Pesawat hilang dari radar. Manajer operasi langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti Basarnas, Bandara tujuan, dan instansi terkait lainnya.

Diketahui, total penumpang Pesawat 50 orang (40 dewasa, 7 anak-anak dan 3 Bayi), ditambah 12 orang (6 kru aktif dan 6 ekstra kru).

Dalam pencariannya, tim penyelamat telah menurunkan sejumah kapal untuk melakukan pertolongan, yaitu kapal dari KPLP Ditjen Perhubungan Laut, Kapal Basarnas (3 kapal dan 3 kapal karet, 2 sea rider), dan Kapal TNI Angkatan Laut (KRI Lalat, KRI Kurau, KRI Siwar, dan KRI Cut Nyak Dien yang sedang menuju TKP)

Editor: Aprilia Rahapit