EKONOMI

MRT Jakarta akan Akuisisi 51 Persen Saham KCI, Serikat Pekerja: Integrasi Yes, Akuisisi No

Ilustrasi. (Istimewa)
Ilustrasi. (Istimewa)

INFOINDONESIA.JAKARTA – PT MRT Jakarta rencananya akan mengakuisisi 51 persen saham PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dari PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Diketahui, pencaplokan saham itu saat ini masih dalam tahap uji tuntas (due diligence). Niat MRT mengakuisisi sendiri adalah untuk mengembangkan sistem integrasi transportasi di wilayah Jabodetabek.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan mengawal akuisisi PT KCI didampingi Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), sehingga dipastikan penghitunga serta tata kelola nilai dilakukan dengan baik.

“Sedang dihitung, karena kita adalam proses transaksi karena itu selayaknya akan kami sampaikan nilai valuasinya setelah proses transaksi selesai,” ujar William, Selasa (5/1/2021).

Dalam mengakusisi PT KCI sebesar 51 persen, MRT Jakarta memanfaatkan dana modal yang berasal dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp 1,7 triliun. Diketahui dana tersebut merupakan pinjaman untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Sayangnya rencana akuisisi tersebut tidak setujui oleh Serikat Pekerja Kereta Api (SPKA).

“SPKA menyampaikan sikap dengan tegas, integrasi YES, akuisisi NO,” tulisnya dalam keterangan yang diterima InfoIndonesia, Rabu (13/1/2021).

Edi menuturkan, akuisisi tersebut justru berpotensi merusak sistem transportasi perkeretaapian yang dinilainya sudah mapan. Selain itu baik terintegrasi dalam satu kesatuan sistem menjadikan terpecah berpetak- petak hanya karena alasan kewenangan.

”PT KAI Group harus mempertahankan legacy terkait jumlah penumpang yang dapat diangkut setiap tahunnya serta potensi big data ticketing penumpang KRL Jabodetabek,” tuturnya.

Ia juga menilai ironi, jika Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mendapatkan porsi akuisisi yang lebih besar dibandingkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam hal ini PT KCI dari PT KAI.

“BUMN lebih elastis dalam pengembangan bisnis secara nasional,” paparnya.

Edi juga menuturkan bahwa PT KCI sudah terbukti bagus dan menjadi contoh layanan kereta api perkotaan yang selamat, aman dan nyaman, namun anehnya diakuisisi perusahaan yang beru lahir.

Ia juga mengingatkan bahwa PT KAI lebih berpengalaman dalam pengelolaan moda transportasi berbasis rel dan memiliki lintas operasional yang lebih panjang (Panjang rel) dan komplek.

Selain itu biaya dan pengorbanan PT KAI yang telah dikeluarkan untuk pembebasan dan penertiban begitu besar di wilayah operasional PT KCI, termasuk pembangunan dan penataan kawasan.

Brand Image PT KAI juga disinggungnya, ia menilai kereta mata publik terhadap commuter sudah sangat bagus.

“Brand tersebut dibangun oleh insan-insan kereta api demi kemajuan PT KAI seperti pada saat sekarang ini,” paparnya

Editor: Aprilia Rahapit