WARNA-WARNI

Waduh, Data Efikasi Terbaru Vaksin Sinovac di Brasil 50,4 persen

Vaksin Sinovac. (Istimewa)
Vaksin Sinovac. (Istimewa)

INFOINDONESIA. JAKARTA – Belum reda reaksi publk terhadap efikasi Indonesia yang hanya mencapai 65,3 persen terhadap vaksin Sinovac, kini Brasil merilis data efikasi terbaru vaksin tersebut dengan hasil 50,4 persen.

Padahal saat menerbitkan Emergency Use Authorization (EUA) terhadap vaksin tersebut pada Senin (11/1/2021), Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito menyebut efikasi Brasil adalah 78 persen.

BPOM menggunakan data efikasi lama yang dirilis Brasil pada Jumat (8/1/2021) dengan efektifitas 78 persen. Sementara dalam laporan terbarunya pada Selasa (12/1/2021) waktu setempat Brasil, vaksin tersebut menghasilkan efikasi terbaru yang beda tipis berada di titik minimal syarat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 50 persen.

Dilansir Channel News Asia, hasil tersebut membuat sejumlah pihak mengecam biomedis Butatan Brasil, sebab pekan lalu merilis dengan efikasi yang aman dan memenuhi syarat WHO.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro juga bereaksi dengan keraguan terhadap vaksin buatan Tiongkok itu.Ahli Mikrobiologi Natalia Pasternak, juga mengkritik laporan Efikasi terbaru Butantan tersebut.

"Kami memiliki vaksin yang bagus. Bukan vaksin terbaik di dunia. Bukan vaksin yang ideal," kata dia.

Pada pekan lalu, para peneliti Brasil sempat merayakan hasil efikasi 78 persen, mereka optimis dengan hasil efikasi tersebut Brasil kedepan mampu meminimalisir penyebaran Covid-19.

Pantauan InfoIndonesia di laman worldometer.info, Rabu (13/1/2021) Brasil berada di peringkat ketiga di Dunia setelah USA dan India, dengan total yang terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 8.195.637 orang, 204.726 meninggal dunia, dan yang berhasil pulih 7.273.707 orang.

Direktur Medis untuk Uji  Klinis di Butantan, Ricardo Palacios mengatakan, laporan baru terbaru tersebut  menunjukan kemanjuran lebih rendah. Hal tersebut kemudian dikritik profesor kesehatan masyarakat di Universitas Sao Paulo, Gonzalo Vecina Neto.

Ia menegaskan, bahwa Brasil membutuhkan juru bicara terbaik agar menginformasikan data efikasi yang transparan dan tertata.

"Kami membutuhkan komunikator yang lebih baik," tegasnya.  

 

Editor: Aprilia Rahapit