DAERAH

Pilgub DKI Tetap Digelar Tahun 2022 Kencang Disuarakan

INFOINDONESIA. JAKARTA - Pilkada 2022 makin kencang disuarakan sejumlah kalangan. Hal itu untuk meminimalisir dampak negatif dari pelaksaan pemilu serentak, yakni pileg, pilpres dan pilkada pada 2024.

Adalah Perludem yang memiki pandangan pemilihan kepala daerah (Pilkada) lebih baik diadakan pada tahun 2022 atau 2023, bukan bersamaan dengan PIleg atau Pilpres pada tahun 2024. 

Perludem beralasan ada sejumlah dampak yang bisa timbul jika Pilpres, Pileg, dan Pilkada dilaksanakan secara bersamaan di tahun 2024.

"Itu usulan kita jadi memang betul bahwa Perludem berpandangan bahwa Pilkada itu tidak tepat kalau dia harus diselenggarakan, kalau dia diselenggarakan seperti desain yang sekarang yaitu pada November 2024," kata anggota Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini melalui keterangannya, Rabu (13/1/2021).

Titi mengatakan akan ada dampak ekses politik yang berat bagi penyelenggara dan pemilih jika Pilkada disatukan dengan Pileg dan Pilpres pada November 2024 seperti tercantum pada Pasal 201 ayat 8 Undang-undang nomor 10 tahun 2016. 

Dia mengambil contoh seperti saat disatukannya Pilpres dan Pileg pada Pemilu 2019.

"Jadi akan ada irisan antara tahapan Pileg Pilpres dan pilkada, itu akan sangat berat, beban pemilihan itu akan sangat berat baik untuk khususnya penyelenggara dan untuk peserta dan pemilih, apalagi di 2019 dengan hanya Pileg Pilpres aja ada 400 orang lebih petugas KPPS yang alami ekses kelelahan dan meninggal, tentu kita tidak menghendaki tragedi yang sama terjadi kan, tragedi yang sama terjadi," jelas Titi.

Tentunya, kata dia, akan ada beban teknis pemilihan yang sangat berat bagi penyelenggara terutama, dan juga peserta dan pemilih. Karena parpol di saat bersamaan mereka harus melakukan konsolidasi politik untuk kerja-kerja pemenangan Pemilu Presiden, Legislatif dan Pilkada.

Titi juga menilai jika isu Pilkada akan tenggelam jika disatukan dengan Pilpres dan Pileg pada tahun 2024. Sehingga, kata dia, ini bisa berdampak pada salah pilih pimpinan daerah hingga tindakan-tindakan ilegal seperti politik uang, politik SARA hingga politik identitas.

"Pileg dan Pilkada akan sangat mungkin tenggelam dengan Pemilu Presiden, akibatnya, karena isu terlalu banyak dan Pemilu Presiden terlalu dominan, pemilih tidak dapat cukup bekal untuk dapat keputusan dalam Pemilihan Legislatif dan Pilkada, ini akhirnya bisa membuat pemilih tidak menggunakan hak pilihnya sesuai dengan tujuan yang dikehendaki yakni beradarkan visi, misi, dan program, atau berdasarkan politik gagasan, dan ini karena persaingan yang ketat bisa memicu tindakan-tindakan ilegal dari praktik pemilihan yaitu digunakannya politik uang, politisasi SARA, dan juga politik identitas," ujar Titi.

Tak hanya itu, Titi juga menyebut ada kemungkinan fokus masyarakat akan tersedot pada Pilpres jika semuanya dilakukan beririsan. Sehingga, nantinya ini bisa berdampak pada tingginya suara tidak sah pada Pileg dan Pilkada.

"Yang juga jadi pelajaran dari Pemilu 2019 karena Pileg Pilpres, tetapi membuat fokus konsentrasi semua tersedot ke Pemilu Presiden akhirnya membuat suara tidak sah DPR dan DPD jadi sangat besar, atau invalid vote atau suara tidak sah, DPD itu bahkan sampai 27 juta atau setara 19 persen, DPR sampai 17 juta atau setara dengan 13 persen, itu angka yang sangat tinggi sekali dan itu ditengarai karena konsterasi pemilih terlalu besar ke Pilpres," imbuhnya.

Dukungan terhadap pelaksaan pilkada 2022 juga disuarakan Partai Demokrat. Wakil Ketua DPD PD DKI, Acmad Nawawi menilai alangkah baiknya pelaksaan pilkada sesuai jadwal masa bakti gubernur yang dipilih pada 2017 lalu.

"2022 tahun depan berarti kan genap 5 tahun masa jabatan Anies sejak terpilih 2017 lalu. Sudah sepatutnya, pilkada dilaksanakan," ujar Ketua BK DPRD DKI.

Sebab, jika pelaksanaan pilkada dilaksanakan pada 2024. Secara otomatis akan memangkas masa bakti gubernur terpilih mendatang.

"Saya rasa dengan waktu dua tahun, akan membuat gubernur terpilih kesulitan menjalankan pembangunan di DKI. Tapi, yah kembali lagi kita tidak dalam kapasitas menentukan kapan pelaksanaan pilkada digelar," ujarnya.

Editor: Hadits Abdilah