DAERAH

Dampak Gempa Sulbar, Rumah Sakit Mitra Mamuju dan Kantor Gubernur Ambruk

Kantor Gubernur Sulbar di Jl Abdul Malik Pattana Endeng, Mamuju yang ambruk akibat gempa. (Foto: Istimewa)
Kantor Gubernur Sulbar di Jl Abdul Malik Pattana Endeng, Mamuju yang ambruk akibat gempa. (Foto: Istimewa)

INFOINDONESIA. JAKARTA  – Gempa yang berpusat di 6 km timur laut Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) bermagnitude 6,2 pada Jumat dini hari, (15/1/2021) membuat sejumlah bangunan rusak berat, bahkan menyebabkan sejumlah akses jalan terputus.

Berdasarkan video dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kerusakan pasca gempa tersebut diantaranya adalah jembatan Bolong Mamuju, nampak bagian aspal terbelah dan diantaranya dialiri air cukup deras .

Selain itu video lainnya menunjukkan seorang petugas BPBD Mamuju tengah mengevakuasi bangunan rusak, dan menemukan korban tertimpa bangunan.

Beruntung korban tersebut masih dapat berbicara dan menjawab pertanyaan petugas di tengah kondisi tubuhnya yang terjepit dinding serta kerangka atap bangunan.

“Siapa namamu dek?,” tanya kepada korban.


“Angel, masih (bisa bernafas) ada suaranya tapi susah,” jawab korban dengan nafas yang sesak.

Selain itu ada juga video kondisi Rumah Sakit Mitra Mamuju yang nampak ambruk, warga dalam video tersebut itu mengatakan terdapat pasien serta pesawat masih tertimbun.

“Enam orang katanya masih terjebak di dalam, dua orang perawat, dua orang pasien, satu keluarga pasien dan satu keluarga pasien,” paparnya.

Adapun yang telah dilaporkan meninggal dunia adalah sebanyak tiga orang, dan luka-luka 24 orang. Kemudian 2.000 warga telah diungsikan.

Sementara itu kerugian material akibat gempa berupa kerusakan, antara lain adalah Hotel Maleo dan Kantor Gubernur Sulbar, dua bangunan tersebut masuk kategori rusak berat, termasuk jaringan listrik masih padam pascagempa. 

BPBD Majene juga menginformasikan terdapat tiga titik longsor sepanjang jalan poros Majene-Mamuju sehingga menyebabkan akses jalan terputus, kemudian data sementara sebanyak 62 unit rumah rusak termasuk satu unit Puskesmas dan satu Kantor danramil Malunda rusak berat.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati mengatakan, berdasarkan analisis peta guncangan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang diukur dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI), gempa tersebut memicu kekuatan guncangan IV - V MMI di  Majene, III MMI di Palu, Sulawesi Tengah dan II MMI di Makasar, Sulawesi Selatan. 

“Deskripsi BMKG pada skala V MMI menunjukkan getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti,” paparnya.

Sementara skala IV MMI menunjukkan pada siang hari sebelumnya juga dirasakan warga di dalam rumah, adapun di luar oleh beberapa orang.

Skala itu menyebabkan gerabah pecah, jendela dan pintu berderik serta dinding berbunyi.

Kemudian skala III MMI menunjukkan getaran dirasakan nyata di dalam rumah. Getaran seakan-akan ada truk berlalu.

“Berikutnya (skala) II MMI, ini menunjukkan adanya getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang,” paparnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga merilis pusat gempa memiliki kedalaman 10 km.

“Berdasarkan pemodelan BMKG, gempa tidak memicu terjadinya tsunami,” papar Raditya.  

Hingga saat ini, pihaknya masih memantau dan berkoordinasi dengan beberapa BPBD yang terdampak guncangan gempa.

“Kepala BNPB Doni Monardo akan berkoordinasi dengan BPBD terdampak di lokasi bencana pada pagi ini,” tandasnya.

Editor: Aprilia Rahapit