EKONOMI

Kemenperin Targetkan Substitusi Impor Industri Keramik Pada 2022

Ilustrasi kerajinan keramik. (Unsplash)
Ilustrasi kerajinan keramik. (Unsplash)

INFOINDONESIA, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah berupaya membangkitkan kejayaan industri keramik nasional.

Hal tersebeut sekaligus untuk membangkitkan kembali Indonesia yang pernah menjadi produsen keramik terbesar nomor empat di dunia pada 2014 lalu.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, untuk membangkitkan industri keramik nasional diperlukan kebijakan strategis. Adapun kebijakan yang akan dilakukan Kemenperin adalah program substitusi impor sebesar 35 persen pada tahun 2022.

“Implementasinya didukung dengan kebijakan pengendalian tata niaga impor keramik dan pembatasan pelabuhan masuk (bongkar) di wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Selain itu, kebijakan minimum import price (MIP) untuk ubin keramik serta pemberlakuan SNI wajib yang diperketat,” kata Agus dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (25/1/2021).

Menurut Agus, industri keramik berpotensi besar bersaing di tingkat nasional maupun global. Oleh karena itu, pihaknya bertekad memacu produktivitas dan daya saing industri keramik di tanah air.


“Secara kapasitas dan kemampuan, industri keramik kita telah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun, kami juga terus mendorong pemanfaatan teknologi modern guna menciptakan produk yang inovatif dan kompetitif,” ungkapnya.

Untuk memacu produktivitas, Kemenperin telah bertemu dengan Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) untuk mencari solusi agar keramik nasional mampu berdaya saing di kancah internasional. Para anggota Asaki pun mendukung kebijakan substitusi impor yang bakal dilakukan Kemenperin tersebut.

“Mereka optimistis industri keramik bisa kembali jaya apabila mendapatkan dukungan dan atensi dari pemerintah. Asaki pun mendukung misi besar Kemenperin untuk substitusi impor,” tuturnya.

Kemenperin mencatat, hingga saat ini kekuatan industri ubin keramik di Indonesia ditopang sebanyak 37 perusahaan yang tersebar di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Provinsi Sumatera Selatan.

Adapun total kapasitas produksi terpasang sebesar 537 juta m2 atau 8,14 juta ton per tahun yang menyerap tenaga kerja hingga 150 ribu orang.

Editor: Aprilia Rahapit