WARNA-WARNI

Susi Pudjiastuti: Jadi Perempuan Mandiri hingga Maskapai Susi Air Berdiri

Susi Pudjiastuti dalam diskusi virtual International Development Week (IDW) 2021. (tangkapan layar/InfoIndonesia)
Susi Pudjiastuti dalam diskusi virtual International Development Week (IDW) 2021. (tangkapan layar/InfoIndonesia)


JAKARTA - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menceritakan bagaimana awal mula terbentuknya Susi Air. Berawal dari jadi kendaraan untuk mengantarkan muatan perikanan, dan kini Susi Air menjadi sebuah maskapai penerbangan yang mengangkut penumpang di daerah-daerah.

Hal itu diceritakannya dalam diskusi virtual International Development Week (IDW) 2021, Kamis (11/2/2021). Perempuan kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 itu mengaku sejak kecil ingin menjadi seseorang yang hidup mandiri, dan enggan diatur oleh orang lain. Termasuk orangtua. Oleh karenanya Ia mulai mencoba bekerja dan mencari uang sendiri.

“Saya kurang cocok dengan sekolah. karakter saya not for school. saya memutuskan untuk resign dan memulai jualan ikan karena di Pangandaran banyak ikan. Yang penting just do something untuk membuat kita jadi independen. Pokoknya gol saya jadi mandiri, tidak mau diatur sama orang. Saya juga tidak mau dikasih tahu Ibu dan Bapak, kamu harus begini begitu. Karena tak mau diatur, saya bekerja mencari uang sendiri,” kata Susi.

Akhirnya pada Tahun 1992, Susi mulai bekerja dengan mencari ikan, perlahan tapi pasti Susi mulai menuai kesuksesan dengan melakukan ekspor ke luar negeri.  Kemudian di tahun 2004, Susi membeli sebuah pesawat untuk digunakan sebagai kendaraan dalam mengantarkan ikan dan lobsternya dengan cepat sehingga kesegaran terjaga.

Kemudian pada kejadian bencana tsunami Aceh pada penghujung tahun 2004, sebuah lembaga non pemerintah (NGO) menyewa pesawat Susi untuk diperbantukan evakuasi maupun mengirimkan bantuan logistik kepada para korban.


 Di Aceh, Susi bertemu dengan mantan Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias Kuntoro Mangkusubroto. Diceritakan Susi, dari pertemuannya itu menjadi cerita awal menjadikan Susi Air menjadi sebuah perusahaan maskapai komersil.

“Pak Kuntoro bilang "daripada di-charter NGO, kenapa nggak bikin reguler buat masyarakat? Kamu tidak gratiskan lagi buat masyarakat,” Saya gratiskan pesawatnya karena udah di-charter NGO,” cerita Susi.

“Tapi karena dorongan Pak Kuntoro, saya akhirnya buka penerbangan reguler ke kota-kota. Dari situlah Susi Air lahir karena CNN bicara saat masuk ke Meulaboh untuk pertama kali pakai Susi Air. Akhirnya jadi usaha baru. Yang tadinya saya pikir perikanan sudah hancur tidak ada jalan lagi. Ternyata kalau kita mau berusaha, Tuhan buka jalan,” tambahnya.

Hingga saat ini, Susi Air sendiri diakuinya sudah memiliki 26 base yang tersebar di seluruh Indonesia. Maskapai ini melayani penerbangan dari secondary city ke commuter area maupun primary city seperti ibu kota atau kabupaten besar di Indonesia.

“Penerbangan kita ada di 26 base di seluruh Indonesia, melayani secondary city ke commuter area. ada beberapa tempat dari secondary city ke primary city (provinsi/ibukota kabupaten besar). Jadi kalo total setiap hari rata-rata sekitar 150 hari melayani remote-remote area. 85% tidak ada substitute, jadi kalau tidak terbang maka tidak ada penerbangan,” kata perempuan berusia 56 tahun ini.

Susi juga mengaku bangga kehadiran Susi Air mampu berkontribusi kepada mereka yang membutuhkan.

“Kita senang berkontribusi dapat membantu saudara-saudara kita yang ada di daerah untuk menghubungkan dari secondary city ke commuter antar commuter city yang memang sangat membutuhkan,” tandas Susi.


Video Terkait:
Susi Pudjiastuti : Saya Sudah Japri
Editor: Aprilia Rahapit