POLHUKAM

Gara-gara Kudeta, SBY Menyesal Pernah Angkat Moeldoko Jadi Panglima TNI

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat melantik Jenderal Moeldoko sebagai Panglima TNI di Istana Negara Jakarta, Jumat (30/8/2013) silam.(Twitter/Sbyudhoyono)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat melantik Jenderal Moeldoko sebagai Panglima TNI di Istana Negara Jakarta, Jumat (30/8/2013) silam.(Twitter/Sbyudhoyono)

INFO INDONESIA. JAKARTA - Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa menyesal pernah memberikan jabatan kepada Moeldoko. Semasa SBY menjabat sebagai Presiden, Moeldoko diangkat sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-18.

Hal ini disampaikan SBY merespons Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara. Diketahui kongres tersebut menetapkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

"Rasa malu dan bersalah saya yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepadanya. Saya memohon ampun kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa Atas kesalahan itu," ungkap SBY, Jumat (5/3/2021).

SBY tidak menyangka partai yang didirikannya mengalami kudeta kepemimpinan. Ia menilai kudeta ini sebagai bentuk tindakan tidak terpuji dan amoral.

"Sebagai orang yang menggagas beridirinya Partai Demokrat, termausk yang membina dan membesarkan partai ini, dan bahkan pernah memimpinnya, tak pernah pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa Partai Demokrat akan dibeginikan," katanya.


Selama sepuluh tahun menjadi Presiden, kata SBY, tidak pernah ada niat mengganggu internal partai lain. SBY betul-betul prihatin dengan kudeta kepemimpinan Partai Demokrat.

"Saya benar-benar tidak menyangka, karena selama sepuluh tahun saya memimpin Indonesia dulu, baik secara pribadi maupun Partai Demokrat yang saya bina tidak pernah mengganggu dan merusak partai lain seperti yang kami alami saat ini," ujarnya.

Editor: Khoirur Rozi