WARNA-WARNI

BMKG Prediksi Awal Kemarau April, Puncaknya Agustus

Konferensi pers BMKG terkait prakiraan musim kemarau 2021 yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (25/3/2021). (Dok. Info Indonesia)
Konferensi pers BMKG terkait prakiraan musim kemarau 2021 yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (25/3/2021). (Dok. Info Indonesia)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia dimulai secara bertahap pada April. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, musim kemarau tidak akan terjadi secara serempak.

Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 22,8 persen diprediksi akan mengawali musim kemarau pada April 2021, yaitu beberapa zona musim di Nusa Tenggara, Bali dan sebagian Jawa.

"Kemudian 30,4 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada Mei 2021, meliputi sebagian Nusa Tenggara, sebagian Bali, Jawa, Sumatera, sebagian Sulawesi dan sebagian Papua," ujar Dwikorita dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal Youtube infoBMKG, Kamis (25/3/2021).

Sementara itu, 27,5 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada Juni 2021, meliputi sebagian Sumatera, Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku dan Papua.

"Ini menunjukkan dalam satu pulau saja dimulainya tidak bersamaan. Jadi, bisa saja ada yang sudah mulai kering, tapi misalnya di bagian lain masih mengalami hujan atau bahkan masih terjadi banjir," terang Dwikorita.


Bulan April – Mei merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, oleh karena itu BMKG mengimbau agar perlu  diwaspadai potensi hujan lebat dengan durasi singkat, angin kencang, puting beliung dan potensi hujan es yang biasa terjadi pada periode tersebut.

BMKG memprediksi bahwa puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah ZOM 2021 terjadi pada Agustus 2021. Kementerian/lembaga, pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat diharapkan lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau, terutama di wilayah yang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan serta wilayah yang rawan terjadi kekurangan air bersih.

Pemerintah daerah diingatkan agar dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air pada musim kemarau ini untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi dan penyimpanan air buatan lainnya melalui gerakan memanen air hujan.

Editor: Khairisa Ferida