DAERAH

Inspirasi Letusan Tambora dari Desa Terpencil Skotlandia

Pembukaan Festival Geopark Tambora yang dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Zulkieflimansyah.
Pembukaan Festival Geopark Tambora yang dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Zulkieflimansyah.

INFO INDONESIA. NTB - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Zulkieflimansyah menceritakan kisahnya saat mengunjungi sebuah desa terpencil di Skotlandia. Di desa itu terdapat sebuah gua kecil yang ramai dikunjungi wisatawan. Bahkan tak sedikit pengunjung yang rela antre untuk masuk ke sana.

Di dalam sudut gua, dihiasi banyak lampu yang membuat suasana semakin indah. Tetapi, yang spesial bukanlah lampu-lampu tersebut, melainkan ada seorang pendongeng yang menceritakan tentang dahsyatnya letusan Gunung Tambora yang lengkap desa simulasinya.

Zulkieflimansyah ingat betul bagaimana pendongeng tersebut bercerita. Ia bahkan baru mengetahui betapa besarnya letusan Gunung Tambora yang terjadi pada 1815.

"Bagi saya yang berasal dari Pulau Sumbawa baru tahu tentang itu. Karena pada masa-masa saya SMA tidak tahu banyak tentang Tambora," kata Gubernur saat membuka Festival Geopark Tambora dalam rangka memperingati 206 tahun letusan Tambora tahun 2021 di Doro Ncanga Tambora, Selasa (6/4/2021).

"Bagi saya yang berasal dari Pulau Sumbawa baru tahu tentang itu. Karena pada masa-masa saya SMA tidak tahu banyak tentang Tambora," kata Gubernur saat membuka Festival Geopark Tambora dalam rangka memperingati 206 tahun letusan Tambora tahun 2021 di Doro Ncanga Tambora, Selasa (6/4/2021).

Menurut gubernur yang akrab disapa Dokter Zul, gua kecil tersebut merupakan tempat bersembunyi warga saat Tambora meletus. Maka tak heran jika ada pendongeng yang mengisahkan Tambora di sana.


"Nah, gua kecil yang ada di desa terpencil itu adalah gua tempat sebagian mereka sembunyi dan selamat ketika abu vulkanik letusan Tambora menutupi langit bangsa Eropa saar itu," ungkap gubernur di hadapan siswa SMA/SMK se-pulau Sumbawa yang hadir dalam festival tersebut.

Ia melanjutkan, Tambora bukan sekadar gunung tua yang pernah meletus ratusan tahun lalu dengan segala kedahsyatannya. Tapi bagi mereka yang menghargai peradaban, bakal menjadikan Tambora sebagai bahan renungan panjang.

Menurutnya, dampak dari letusan Tambora menyebabkan negara-negara di Eropa kehilangan musim panas tiga tahun berturut-turut. Akibatnya, saat itu banyak orang mati karena kedinginan dan kelaparan.

Letusan Tambora juga membuat pasukan Perancis di bawah kepemimpinan Jenderal Napoleon Bonaparte kalah perang. Menurut Zul, abu vulkanis Tambora yang menutupi langit Eropa kala itu menjadi penyebab Napoleon tumbang dari Inggris dan Prilussia.

"Sehebat tentara Napoleon pun tidak tahan dengan kedinginan yang membuat tentaranya banyak yang mati kedinginan. Mereka pun mengatakan bahwa letusan Tambora bukan hanya menyisakan musim dingin yang berkepanjangan tapi telah mengubah wajah umat manusia pada ratusan tahun yang lalu," jelasnya.

Dari kemasyhuran Gunung Tambora, Zul berharap situs Geopark Tambora dapat dijaga dengan penuh keskralan dan keunikannya. Ia juga menyarankan agar event di Tambora cukup digelar setahun sekali, namun mampu mendatangkan wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

"Dari renungan panjang tentang Tambora, kita tidak berharap bahwa Tambora akan meletus lagi. Tapi adik-adik yang hadir di sini bisa menangkap inspirasi itu, kalau Tambora 206 tahun lalu mampu mengguncang dunia. Siapa tahu generasi Dompu yang duduk bersimpuh di kaki Tambora ini akan mampu mengubah peradaban dunia," ungkapnya.

Oleh sebab itu, ia meminta generasi muda tetap menjaga keluhuran Tambora dengan baik. Kisah tentang Tambora harus dilestarikan sebagai warisan sejarah.

"Kalau di sebuah gua kecil yang sangat jauh di Skotlandia mampu membuat orang antre untuk mendengarkan cerita meletusnya Tambora, kenapa di sini tidak mampu menghidangkan cerita apa-apa," ujarnya.

"Saya bisa membayangkan kalau di gerbang Balai Taman Nasional Tambora atau di Kota Dompu dibangun sebuah monumen untuk mengenang cerita letusan Tambora dan seakan-akan mereka bisa merasakannya. Semoga event festival Tambora setiap tahunnya mampu menghimpun umat manusia untuk mengingat kembali jejak sejarah letusan Tambora," imbuhnya.

Budidaya Porang di Tambora

Dalam kesempatan itu, Bupati Dompu, Kader Jailani mengatakan, Gunung Tambora merupakan salah satu warisan kekayaan alam yang melimpah bagi masyarakat Dompu. Maka dari itu perlu adanya pengelolaan sumber daya alam agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Kader, dalam pengembangan Geopark Tambora, pihaknya akan terus menginisiasi pola pembangunan ekonomi masyarakat melalui sektor industri pariwisata berkelanjutan.

"Pemerintah Dompu akan terus mengawal berbagai program pembangunan yang diarahkan pemerintah Provinsi NTB untuk menjaga kelestarian hutan. Khususnya kawasan hutan di lereng Gunung Tambora yang menjadi kawasan Taman Nasional Geopark Tambora," jelasnya.

Di samping itu, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, Pemkab Dompu bakal mendukung program penanaman porang. Tanaman penghasil umbi ini punya nilai jual cukup tinggi di pasaran. Sebab, porang mengandung glukomannan yang dapat dimanfaatkan untuk industri dan kesehatan.

"Sehingga tanaman pelindung dalam hal ini pohon-pohon besar yang melindungi tanaman Porang. Di samping kita melestarikan hutan, kita juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat melalui Komoditi Porang," jelas Kader.

Menurutnya, program porang tentu menjadi penopang dalam upaya melestarikan fungsi hutan di Kabupaten Dompu. Sehingga, bencana banjir yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Dompu dapat diminimalisir dengan hadirnya prgogram penanaman Porang.

Dalam pembukaan Festival Geopark Tambora tersebut turut dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Yuniadi. MG Geopark Tambora, Hadi Santoso, beberapa kepala OPD Lingkup pemerintah Provinsi NTB serta ratusan siswa-siswi SMA/SMK se- Pulau Sumbawa.

Acara itu juga turut dimeriahkan oleh tari Wura Bongi Monca persembahan dari SMAN 1 Dompu, Tari Nangi Doro Tambora dari SMK 1 Pekat dan senam Gemar Gatra dari Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Provinsi NTB.

Editor: Khoirur Rozi