DAERAH

Bupati Pati Imbau Warganya di Perantauan Tidak Mudik

Bupati Pati Haryanto. (ANTARA)
Bupati Pati Haryanto. (ANTARA)

INFO INDONESIA. JAKARTA - Bupati Pati Haryanto mengimbau warganya di perantauan tidak mudik ke kampung halaman. Ia tak ingin ada klaster penularan COVID-19 akibat dari aktivitas mudik Lebaran.

"Aturan Pemerintah Pusat sudah benar melarang. Kami juga sudah mengimbau kepada warga Pati di perantauan, baik di Surabaya, Jakarta maupun daerah lainnya agar tidak mudik ke Pati karena saat ini belum benar-benar terbebas dari COVID-19," kata Haryanto dikutip dari ANTARA, Minggu (9/5/2021).

Menurut Haryanto, meskipun tidak bisa mudik, silaturahmi bisa tetap berlangsung secara virtual. Meskipun kebijakan larangan mudik sulit diterima, menurutnya hal ini demi melindungi keluarga agar tidak terpapar COVID-19.

"Jangan karena kesenangan yang bersifat sebentar, tetapi ketika terpapar sakitnya tentu berlama-lama," ujarnya.

Menurut Haryanto, jumlah pemudik tahun ini lebih sedikit yakni 2000 orang dibandingkan tahun lalu yang mencapai 11 ribu orang. Data pemudik ini dihimpun hingga 8 Mei 2021.


Semua pemudik tersebut juga sudah menjalani tes cepat (rapid test) antigen karena petugas mendatangi rumah warga. Sedangkan klaster pemudik sebelumnya di Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, yang tercatat ada 39 orang dinyatakan positif COVID-19, kini sudah sehat semua.

Klaster tersebut, berawal dari syukuran dari keluarga pemudik usai membeli mobil, kemudian terjadi penularan COVID-19. Harapannya, kasus ini menjadi pembelajaran bagi warga Pati untuk waspada dan sementara waktu tidak mudik ke kampung halamannya.

Sebanyak 15 pekerja migran dari Malaysia juga diminta melakukan tes usap tenggorokan (swab) untuk memastikan bebas COVID-19 dan menjalani isolasi selama lima hari di Surabaya, baru boleh pulang ke Pati setelah dinyatakan negatif COVID-19.

Untuk mencegah muncul klaster pemudik, maka pemerintah desa bersama Satgas Jogo Tonggo, bidan, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dilibatkan dalam pendataan pemudik. Mereka juga dilatih melakukan rapid test antigen karena sebelumnya disediakan 11.000 alat rapid test antigen.

Editor: Khoirur Rozi