POLHUKAM

181 Warga Palestina Tewas Akibat Serangan Israel

Demonstran mengibarkan bendera Palestina saat berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, di Jakarta, Selasa (18/5/2021). (Dok. Antara/Genta Tenri Mawangi)
Demonstran mengibarkan bendera Palestina saat berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, di Jakarta, Selasa (18/5/2021). (Dok. Antara/Genta Tenri Mawangi)


JAKARTA - Direktur Jenderal Kerjasama Multilateral Kementerian Luar Negeri Febrian Alphyanto menyatakan 181 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak 10 Mei 2021.

"Laporan dari utusan khusus PBB untuk proses perdamaian Timur Tengah, sekitar 181 warga Palestina yang menjadi korban jiwa termasuk 52 anak-anak dan 31 wanita. Selain itu, 1.200 korban luka akibat serangan insiden roket dan serangan udara antara kedua belah pihak," jelas Febrian dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi I DPR di Jakarta, Selasa (18/5/2021), seperti dilansir Antara.

Febrian menjelaskan situasi semakin memburuk, semenjak aksi balas-membalas serangan roket pada 10 Mei 2021, memicu korban jiwa dan luka-luka di Yerusalem Timur dan Palestina secara keseluruhan.

Peningkatan kekerasan juga mengakibatkan situasi kemanusiaan semakin memburuk, khususnya di Gaza, seiring terganggunya akses air bersih, makanan dan fasilitas kesehatan. 

Kondisi diperparah dengan penutupan sejumlah akses penyeberangan ke Gaza oleh otoritas Israel untuk orang dan barang, termasuk personel dan bantuan kemanusiaan, sejak 10 Mei 2021.


Febrian menekankan bahwa Indonesia telah menyampaikan kecaman terhadap aksi kekerasan yang dilakukan Israel termasuk penghancuran secara ilegal pemukiman Palestina.

Pada tataran bilateral, Indonesia telah melakukan pendekatan ke sejumlah negara, termasuk dengan Palestina untuk mengupayakan penghentian kekerasan. Indonesia terus memberikan tekanan kepada Israel melalui berbagai forum baik PBB, OKI maupun dengan like-minded countries.

"Masalah konflik ini tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja maka diplomasi kita adalah menggugah kembali semangat dari masyarakat dunia untuk melakukan aksi secara bersama-sama," jelas Febrian.

Pada 16 Mei 2021, Indonesia bersama Malaysia dan Brunei Darussalam telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menekankan tiga hal penting, yakni menyuarakan penghentian serangan kepada rakyat sipil dan mendesak seluruh pihak untuk menerima temporary International Presence di Yerusalem.

Selanjutnya, mendesak organ PBB, termasuk dewan keamanan dan majelis umum PBB untuk bertindak. Kemudian juga mendesak masyarakat internasional untuk berkomitmen terhadap two-state Solution demi mendukung kemerdekaan Palestina.

Sejak eskalasi konflik meningkat, sebut Febrian, DK PBB telah menggelar tiga kali pertemuan untuk membahas situasi di Palestina. Pertemuan terakhir dilaksanakan pada 16 Mei 2021. 

"Indonesia telah menyampaikan sejumlah poin pernyataan secara tertulis di antaranya pentingnya deeskalasi dan gencatan senjata serta pentingnya aksi nyata dari DK PBB. Dan pentingnya memastikan akses terhadap bantuan kemanusiaan," ungkap Febrian.


Video Terkait:
PAN Menggalang Dana Kemanusiaan Untuk Palestina
Editor: Khairisa Ferida