POLHUKAM

Perjuangkan Nasib Palestina, Menlu RI Hadiri Serangkaian Pertemuan di New York

Aksi bela Palestina yang digelar beragam komunitas di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Selasa (18/5/2021). (ANTARA/Stepensopyan Pontoh)
Aksi bela Palestina yang digelar beragam komunitas di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Selasa (18/5/2021). (ANTARA/Stepensopyan Pontoh)


JAKARTA - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tiba di New York, Amerika Serikat, pada Rabu (19/5/2021) untuk menghadiri serangkaian pertemuan yang akan membahas situasi Palestina. 

Di New York, Menlu Retno telah bertemu dengan Presiden Sidang ke-75 Majelis Umum PBB Volkan Bozkir serta Presiden Dewan Keamanan PBB Zhang Jun.

Arrived in New York for a series of meetings on the situation in Palestine (19/05)

I will be attending the #GA Debate on Palestine and meet with #UNSG, #PGA, President #UNSC and a number of Foreign Ministers. pic.twitter.com/jKzdVv3zLX

— Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (@Menlu_RI) May 19, 2021

Pertemuan Majelis Umum PBB tentang Palestina dan Timur Tengah dilaksanakan setelah Dewan Keamanan PBB gagal mengeluarkan resolusi untuk menghentikan agresi Israel atas Palestina.

Sementara itu, dalam pengarahan media virtual pada Kamis (20/5/2021), Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Febrian A Ruddyard menekankan bahwa Indonesia mengharapkan penghentian kekerasan secara berkelanjutan di Jalur Gaza. 


Gencatan senjata diharapkan dapat diupayakan melalui sesi debat Majelis Umum PBB yang khusus membahas isu Palestina dan Timur Tengah pada Kamis (20/5/2021) pagi waktu New York.

"Yang jelas harus ada gencatan senjata atau penghentian aksi kekerasan dan saling serang. Karena kita sangat prihatin dengan keselamatan manusia, jadi tidak bisa menunggu sampai serangan-serangan itu berhenti," kata Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Febrian A Ruddyard dalam pengarahan media virtual seperti dilansir Antara.

Penghentian kekerasan di Gaza, menurut Febrian, harus diupayakan secara berkelanjutan karena wilayah itu telah berkali-kali menjadi sasaran dalam konflik Israel dan Palestina.

"Saat ini mengingat korban jiwa yang besar, sudah saatnya Majelis Umum berpikir untuk membuat suatu mekanisme yang memungkinkan berhentinya kekerasan, bukan hanya sementara tetapi sekaligus menyelesaikan masalahnya," ujar Febrian.

Pertempuran antara Israel dan Hamas, faksi Palestina yang mengontrol wilayah Gaza, meletus sejak 10 hari lalu.

Hamas melancarkan serangan roket menyusul bentrokan antara polisi keamanan Israel dengan jemaah di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan upaya pengadilan oleh pemukim Israel untuk mengusir warga Palestina dari tempat tinggal mereka di Yerusalem Timur.

Pejabat medis Palestina menyatakan 223 orang tewas dalam 10 hari pengeboman udara oleh Israel, sementara otoritas Israel mengatakan korban tewas di pihak mereka 12 orang.


Video Terkait:
Curah Hujan Tinggi di Sumsel, 495 Rumah Warga Terendam Banjir
Editor: Khairisa Ferida