EKONOMI

Resep Rizal Ramli Agar Indonesia Selamat dari Krisis

Ekonom senior Rizal Ramli saat berpidato dalam acara 'Kebangkitan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Jalan Keadilan dan Kemakmuran' di Gedung Joeang 45, Jakarta, Jumat (28/5/2021).
Ekonom senior Rizal Ramli saat berpidato dalam acara 'Kebangkitan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Jalan Keadilan dan Kemakmuran' di Gedung Joeang 45, Jakarta, Jumat (28/5/2021).


JAKARTA - Ekonom senior Rizal Ramli menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya sangat mampu keluar dari krisis multidimensi yang tengah dialami saat ini. Termasuk krisis yang diakibatkan adanya pandemi COVID-19.

Hal itu disampaikan oleh Rizal Ramli dalam pidato bertajuk 'Kebangkitan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Jalan Keadilan dan Kemakmuran' di Gedung Joeang 45, Jakarta, Jumat (28/5/2021).

"Banyak yang bertanya, apakah kita bisa keluar dari krisis multidimensi ini? Sudah tentu bisa. Sangat bisa. Jika seluruh potensi rakyat Indonesia digerakkan, semua potensi strategis dan sumber alam nasional benar-benar dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat Indonesia," kata Rizal.

Untuk mencapai hal itu, salah satu upaya adalah dengan menerapkan sistem perekonomian yang sesuai dengan konstitusi Undang-Undang 1945.

"Bukan ekonomi neoliberalisme yang menjadi pintu masuk neo-kolonialisme, kolonialisme baru. Dan bukan juga kegiatan ekonomi yang lokasinya di Indonesia, tapi manfaat dan nilai tambahnya untuk kemakmuran orang-orang asing, untuk bangsa lain," jelas Rizal.


Kemudian, salah satu kunci utama suatu negara untuk bisa keluar dari krisis adalah melalui kepemimpinan yang berintegritas, berkualitas, dan berkompetensi. Menurut dia, kualitas seorang pemimpin negara diuji ketika tengah berhadapan dengan krisis.

"Pemimpin tangguh itu mampu mencari peluang dan memanfaatkan krisis untuk memperkokoh ketahanan dan menggerakan bangsa untuk keluar cepat dari krisis dan melaju ke tahap yang lebih baik," ucap Rizal Ramli.

"Pemimpin memble akan membuat krisis justru menjadi lebih ruwet dan lama. Dampaknya semakin meluas dan rakyat semakin susah. Bukannya pulih lebih cepat, tapi malah anjlok lebih dalam karena kebijakan-kebijakan yang dibuatnya tidak fokus, tanpa prioritas, dan syarat konflik kepentingan sehingga dalam situasi seperti itu tindakan koruptif akan semakin tidak terkendali," imbuhnya.

Editor: Khoirur Rozi