POLHUKAM

Duet Cak Imin-AHY Sulit Terwujud

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (kiri) menyambut kedatangan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (kanan) yang berkunjung ke Kantor DPP PKB di Jakarta, Rabu (8/7/2020). (ANTARA)
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (kiri) menyambut kedatangan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (kanan) yang berkunjung ke Kantor DPP PKB di Jakarta, Rabu (8/7/2020). (ANTARA)

JAKARTA – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) berencana menduetkan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Pilpres 2024. Wacana ini disampaikan Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid.

Menanggapi hal itu, pengamat politik M Qodari menilai duet antara Cak Imin dengan AHY sulit terwujud. Menurutnya PKB sekadar melempar wacana tersebut untuk meramaikan bursa pencalonan presiden.

"Menurut saya, ide atau gagasan Cak Imin-AHY ini tak lebih dari sebagai political gymastic alias senam-senam politik saja begitu. Bukan sesuatu yang berpotensi menjadi kenyataan," kata M Qodari melalui rekaman suara yang diterima Info Indonesia, Jumat (4/6/2021).

Qadari menjelaskan, PKB dan Partai Demokrat tak punya cukup suara di parlemen untuk mencalonkan kedua tokoh tersebut. Untuk mencalonkan presiden, koalisi partai politik harus memenuhi Presidential Threshold atau ambang batas perolehan suara.

"Syarat pertama dan paling pokok adalah syarat UU, yakni 20 persen kursi DPR. Syarat itu belum terpenuhi karena kursinya PKB hanya 58 dan Demokrat hanya 54, kalau ditambah, baru 112. Sekitar 19,5 persen jadi belum terpenuhi," jelasnya.


Oleh karena itu, untuk memungkinkan lolos ke bursa capres dan cawapres, PKB dan Demokrat membutuhkan dukungan partai lain. Namun, menggandeng partai lain menurutnya bukan sesuatu yang mudah.

"Partai lain itu partai mana? Dan apakah mau partai tersebut mau berbagung dalam koalisi ini? Karena Cak Imin Ketum PKB jadi capres, AHY ketum PD jadi cawapres, nah ketua partai satu lagi jadi apa dong?," ungkapnya.

Kemudian, Qodari menilai elektabilitas Cak Imin dan AHY juga menjadi persoalan untuk mereka mencalonkan diri. Sebab, dalam berbagai survei, elektabilitas keduanya tidak terlalu menonjol.

"Eelektabilitas Cak Imin dan AHY sama-sama terbatas. Keduanya tak satu pun menduduki peringkat tiga  besar dalam survei calon presiden. Jadi kecil sama-sama kecil, ya sulit," ujarnya.

Qodari lantas membandingkan hal itu dengan wacana duet Anies Baswedan dengan Puan Maharani. Menurutnya, duet Anies-Puan lebih potensial mengingat suara PDI Perjuangan di parlemen paling tinggi. Selain itu, basis pendukung Anies pun terbilang masif.

"Kalau gagasan Puan dengan Anies, ya mungkin secara ideologi ketemu. Tetapi secara matematika kertas juga ketemu karena suara PDI 128," terang dia.

Ia menambahkan, partai politik sebaiknya memperhatikan hitungan matematis sebelum mencalonkan tokoh menjadi presiden atau wakil presiden.

"Jadi kombinasi yang realistis dan rasional itu adalah yang ketemu untuk syarat partainya dan ketemu syarat elektabilitasnya. Itu baru masuk di akal dan itu baru mungkin. Di luar itu, ya jauh panggang dari api alias senam-senam politik atua political gymnastic saja," imbuhnya.

Editor: Khoirur Rozi