POLHUKAM

Fadli Zon Sebut Banyak yang Salah Paham Soal Anggaran Alpalhankam

Anggota Komisi I DPR RI, Fadli Zon. (Info Indonesia/Khoirur Rozi)
Anggota Komisi I DPR RI, Fadli Zon. (Info Indonesia/Khoirur Rozi)

JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI, Fadli Zon menilai banyak pihak salah paham terkait rencana pemenuhan kebutuhan alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) 2020-2024. Ia menyebut setidaknya ada tiga hal kesalahpahaman tersebut.

"Umumnya telah disalahpahami oleh banyak orang. Tak sedikit yang menilai kalau rencana strategis itu sebagai ambisius dan tidak peka terhadap krisis yang tengah kita alami," kata Fadli dikutip dari ANTARA, Senin (7/6/2021).

Fadli mengatakan, kesalahpahaman pertama adalah terkait anggaran yang mencapai Rp 1.760 triliun. Menurutnya, banyak pihak yang hanya melihat total anggaran tanpa memahami skema pemenuhan alpalhankam.

“Kedua, masyarakat melupakan pengadaan peralatan perang itu merupakan proyek strategis untuk jangka waktu 25 tahun,” ujarnya.

Terakhir, lanjut Fadli, mereka yang menentang pengadaan alat pertahanan tidak memahami bahwa hal itu baru bersifat rencana.


"Di luar tiga hal tadi, banyak orang juga lupa, jika saat ini kita berada di tahap akhir program Kekuatan Pokok Minimum, atau MEF (Minimum Essential Force), yang telah dimulai sejak 2009 silam," kata wakil ketua umum DPP Partai Gerindra ini.

MEF, lanjut dia, merupakan program masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dirancang untuk memodernisasi kekuatan pertahanan Indonesia. Adapun MEF dilakukan dalam tiga tahap yakni MEF I (2009-2014), MEF II (2014-2019), dan MEF III (2019-2024).

Menurut dia, dalam tiap tahap MEF pemerintah menganggarkan kurang lebih sebesar Rp150 triliun untuk belanja peralatan perang.

"Jadi, kurang lebih tiap tahun anggarannya adalah sebesar Rp 30 triliun. Nah, program ini akan berakhir pada 2024. Sehingga, sangat wajar jika pemerintah kemudian menyusun rancangan program strategis baru untuk meneruskan MEF. Itulah latar belakang munculnya rancangan Perpres tentang Alpahankam," jelasnya.

Editor: Khoirur Rozi