WARNA-WARNI

Soal Isu Produk Nestle Tidak Sehat, Begini Penjelasan BPKN

Ilustrasi produk kemasan. (Dok. Pixabay)
Ilustrasi produk kemasan. (Dok. Pixabay)

INFO INDONESIA. JAKARTA - Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan (BPOM) berkoordinasi dengan PT Nestle Indonesia terkait isu gizi sejumlah produk dari produsen konsumer dunia itu yang diduga menyalahi aturan.
 
Ketua BPKN RI Rizal E Halim dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Kamis (10/6/2021), meminta masyarakat tetap tenang dan bijak ketika membeli produk makanan dan minuman kemasan dengan memeriksa label dan berbagai informasi yang tertera pada kemasan. Demikian seperti dilansir Antara.
 
Dia menyebut BPKN RI dan BPOM RI melakukan pertemuan secara simultan dengan PT Nestle Indonesia untuk meredam keresahan informasi yang beredar di masyarakat.
 
Sebelumnya, media massa asal Inggris Financial Times mewartakan bahwa sebagian dari produk Nestle memiliki kandungan gizi yang tidak sehat.
 
Dokumen internal Nestle yang diwartakan oleh Financial Times berisi pernyataan petinggi Nestle Global yang menyebut lebih dari 60 persen produk Nestle tidak memenuhi standar kesehatan yang berlaku atau tidak sehat.
 
Dalam laporan Financial Times disebutkan bahwa produk Nestle yang tidak sehat tidak memenuhi standar Australia Health Rating System dengan ambang batas poin 3,5.

Laporan tersebut berkaitan dengan pencantuman kandungan gizi produk, khususnya kandungan gula, garam dan lemak (GGL) sebagai salah satu faktor risiko penyebab penyakit tidak menular (PTM) jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan.
 
Rizal E Halim menyampaikan bahwa pemberitaan Financial Times ini perlu diklarifikasi baik oleh otoritas terkait seperti BPOM, Kementerian Kesehatan, Perguruan Tinggi dan juga kejujuran dari pelaku usaha demi melindungi masyarakat Indonesia. BPKN RI berharap hasil koordinasi nantinya dapat digunakan untuk klarifikasi publik khususnya terkait pemberitaan tersebut.
 
Terkait permasalahan ini, BPKN RI mengusulkan untuk melakukan pendekatan label di kemasan agar mudah dipahami konsumen dan memberikan edukasi kepada masyarakat baik dari sisi pelaku usaha maupun otoritas terkait.
 
BPKN RI dalam waktu dekat ini akan melakukan pertemuan kembali dengan BPOM dan PT Nestle untuk mendapatkan informasi data-data terkait produk kemasan dan dari hasil penelitian BPKN.
 
Menurut Rizal, koordinasi ini akan menjadi salah satu referensi bagi BPKN RI dalam memberikan rekomendasi kepada presiden terkait permasalahan nilai gizi, khususnya kandungan GGL pada makanan dan minuman dalam kemasan sehingga dapat memitigasi risiko ke depannya bagi rakyat Indonesia.

Masalah yang ditimbukan dari kelebihan asupan GGL, lanjutnya, relatif sulit ditemu kenali dalam waktu singkat karena dampaknya perlahan dalam beberapa waktu ke depan.
 
"Kita tidak ingin generasi muda banga menghadapi persoalan yang sebenarnya sedang dialami generasi saat ini seperti penyakit diabetes, jantung, hipertensi,
dan lain sebagainya," kata dia.
 
BPKN RI juga mendukung penyelenggaran perlindungan konsumen bersama otoritas dan seluruh stakeholder produk pangan makanan dan minuman untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dalam meningkatkan pemahaman akan informasi nilai gizi khususnya kandungan GGL pada makanan dan minuman dalam kemasan.


Editor: Khairisa Ferida