POLHUKAM

Komisi X DPR RI Setujui Tambahan Anggaran Kemendikbudristek Sebesar Rp 20,1 Triliun

Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda. (Dok DPR RI)
Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda. (Dok DPR RI)

JAKARTA – Komisi X DPR RI menyetujui usulan penambahan pagu indikatif anggaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun anggaran 2022 sebesar Rp 20,1 triliun. Sehingga, pagu indikatif Kemendikbudristek pada tahun anggaran 2022 menjadi Rp 93,2 triliun.

“Komisi X DPR RI menyetujui usulan penambahan pagu indikatif Kemendikbudristek RI pada RAPBN Tahun Anggaran 2022 sebesar Rp 20,1 triliun,” kata Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda dalam Rapat Kerja dengan Mendikbud, Selasa (15/6/2021).

Syaiful kemudian meminta Kemendikbudristek menjadikan pandangan dan masukan Komisi X sebagai rujukan dalam penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan pada tahun anggaran 2022.

“Kami menekankan kepada Kemendikbudristek untuk menjadikan masukan anggota Komisi X pada rapat kerja pada 3 Juni 2021 dan rapat dengar pendapat (RDP) 7-8 Juni sebagai rujukan Kemendikbudristek,” ujarnya.

Sebelum pagu anggaran tersebut disetujui, Kemendikbudristek hanya mendapatkan Pagu indikatif anggaran untuk tahun anggaran 2022 sebesar Rp73 triliun. Jumlah ini menurun Rp8,5 triliun dibandingkan pagu anggaran 2021 yakni sebesar Rp81,5 triliun.


Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim berharap anggaran kementeriannya bisa ditambah untuk 2022. Penambahan anggaran disebut dibutuhkan untuk mendukung program pendidikan yang akan berjalan di tahun depan.

Nadiem menerangkan, jika anggaran Kemendikbudristek tidak ditambah, maka akan banyak program pendidikan yang tidan bisa berjalan. Terlebih, anggaran tersebut bakal digunakan untuk mengatasi learning loss akibat pandemi.

"Kalau kita tertinggal malah sehrusnya dari sisi anggaran dan sumber daya itu dipercepat dan perbesar. Perlu dorongan alokasi 20 persen anggaran fungsi pendidikan, untuk berbagai fungsi pendidikan dan hanya untuk pendidikan," jelas Nadiem.

Editor: Khoirur Rozi