POLHUKAM

Respons JokPro 2024, Denny Siregar: Saya Menolak Ide Jokowi 3 Periode

Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (15/6/2021). (Dok. BPMI Setpres/Lukas)
Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (15/6/2021). (Dok. BPMI Setpres/Lukas)

JAKARTA - Pegiat media sosial Denny Siregar menegaskan bahwa dirinya menolak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjabat tiga periode. Pernyataannya tersebut merespons munculnya gagasan memasangkan Jokowi dengan Prabowo Subianto pada Pilpres 2024.

"Gagasan untuk sandingkan @jokowi dan @prabowo di 2024, bilangnya supaya tidak ada polarisasi di Pilpres nanti.. Catat. Beda pilihan Presiden itu wajar. Yang masalah bukan itu, tapi ada yang mainkan politik identitas. Itu yg harus dilawan. Saya menolak ide @jokowi 3 periode !," twit Denny Siregar, Minggu (20/6/2021).

Gagasan untuk sandingkan @jokowi dan @prabowo di 2024, bilangnya supaya tidak ada polarisasi di Pilpres nanti..

Catat. Beda pilihan Presiden itu wajar. Yang masalah bukan itu, tapi ada yang mainkan politik identitas. Itu yg harus dilawan.

Saya menolak ide @jokowi 3 periode !

— Denny siregar (@Dennysiregar7) June 20, 2021

Dalam twit berikutnya, Denny Siregar menjadikan Nelson Mandela sebagai contoh.

— Denny siregar (@Dennysiregar7) June 20, 2021

Dalam twit berikutnya, Denny Siregar menjadikan Nelson Mandela sebagai contoh.

"Nelson Mandela menolak untuk dicalonkan jadi Presiden di periode kedua. Katanya, 'Biarlah ada regenerasi kepemimpinan. Saya mengawal Afrika Selatan, bukan ingin menguasainya..' Dia meninggal dengan nama harum karena tidak haus kekuasaan. Dan sampai sekarang ia dikenang..," twit Deeny Siregar.


Sebelumnya, pada Sabtu  (19/6/2021), sekelompok orang yang menamakan diri Komunitas Jokowi-Prabowo (JokPro) 2024 menggelar syukuran Sekretariat Nasional Jokowi-Prabowo 2024.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari sebagai inisiator JokPro 2024 mengatakan, alasan mendukung Jokowi dan Prabowo Subianto adalah untuk mencegah polarisasi masyarakat seperti yang terjadi pada Pilpres 2019.

"Penggagas pertama saya karena melihat masalah polarisasi di 2024 kecenderungannya akan semakin menguat, lebih kuat dari 2014 dan 2019. Maka solusinya adalah menggabungkan dua tokoh yang merupakan representasi terkuat masyarakat Indonesia, yaitu Jokowi dan Prabowo," jelasnya.

Lebih lanjut Qodari menuturkan, selain dirinya, Jokpro diinisiasi pula oleh Baron Danardono Wibowo yang bertindak sebagai ketua umum. 

"Ide saya juga didukung, diresonansi oleh kalangan muda misalnya mantan aktivis Fakultas Hukum Universitas Katolik Atma Jaya Yogyakarta, yang kemudian jadi Sekretaris Jenderal (Sekjen Komunitas JokPro) Timothy Ivan Triyono. Hasil konsolidasinya adalah terbentuknya Komunitas JokPro 2024," kata Qodari.

Editor: Khairisa Ferida