POLHUKAM

Kasus COVID-19 Melonjak, Ahli Wanti-wanti Soal Krisis Oksigen

Ilustrasi oksigen. (Dok. Pixabay)
Ilustrasi oksigen. (Dok. Pixabay)

JAKARTA - Para ahli mengingatkan pentingnya memitigasi krisis oksigen menyusul lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia. Epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengingatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa kenaikan kasus COVID-19 yang vertikal akibat dominasi varian baru akan berujung pada krisis rumah sakit dan oksigen.

"Pak @jokowi Hujan di bulan Juni membawa berkah. Lonjakan Kasus Covid19 di bulan Juni bawa kesedihan yg tak terperikan, layanan kesehatan di beberapa wilayah sudah kewalahan. Kenaikan yg vertikal - akibat dominasi varian - krisis RS & oksigen," twit Pandu, Rabu (23/6/2021).

Dia menegaskan dibutuhkan kepemimpinan langsung Presiden Jokowi untuk menangani hal tersebut.

Pak @jokowi Hujan di bulan Juni membawa berkah. Lonjakan Kasus Covid19 di bulan Juni bawa kesedihan yg tak terperikan, layanan kesehatan di beberapa wilayah sudah kewalahan. Kenaikan yg vertikal - akibat dominasi varian - krisis RS & oksigen. Butuh kepemimpinan presiden langsung. pic.twitter.com/MTFOqx0NTQ

Pak @jokowi Hujan di bulan Juni membawa berkah. Lonjakan Kasus Covid19 di bulan Juni bawa kesedihan yg tak terperikan, layanan kesehatan di beberapa wilayah sudah kewalahan. Kenaikan yg vertikal - akibat dominasi varian - krisis RS & oksigen. Butuh kepemimpinan presiden langsung. pic.twitter.com/MTFOqx0NTQ

— Juru Wabah 🇮🇩 (@drpriono1) June 23, 2021

Sementara itu, Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban menegaskan pentingnya memitigasi krisis oksigen. Dia menyatakan bahwa oksigen adalah kunci dalam merawat sejumlah pasien COVID-19.


"Beberapa bulan silam sebenarnya kita punya cukup waktu memitigasi krisis oksigen--seperti yang terjadi di Yogyakarta saat ini. Apalagi oksigen adalah kunci dalam merawat beberapa pasien Covid-19," twit pria yang akrab disapa Prof Beri tersebut.

Dia berharap daerah punya mitigasi stok oksigen mulai saat ini.

"Wajib," kata dia.

Beberapa bulan silam sebenarnya kita punya cukup waktu memitigasi krisis oksigen--seperti yang terjadi di Yogyakarta saat ini. Apalagi oksigen adalah kunci dalam merawat beberapa pasien Covid-19.

Saya harap, daerah lain punya mitigasi stok oksigen ini mulai sekarang. Wajib. https://t.co/pSH4t0DRKl

— Zubairi Djoerban (@ProfesorZubairi) June 22, 2021

Dilansir kompas.com pada Selasa (22/6/2021), Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengakui ketersediaan tabung oksigen di rumah sakit rujukan COVID-19 semakin menipis. Keadaan ini mulai terjadi setelah tingkat keterisian atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit sudah lebih dari 70 persen. 

"Ketersedian oksigen di rumah sakit tidak seperti biasanya kenapa karena memang angka kasusnya meningkat," kata Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie saat dihubungi, Selasa.

Pembajun mengatakan, sudah ada upaya untuk mengatasi menipisnya ketersediaan tabung oksigen. Namun, kelangkaan masih terjadi karena permintaannya yang terus melonjak. 
"Sudah dipasok oleh distributor tapi karena permintaan tiga kali lipat ya jadi semakin cepat habis," kata Pembajun.

Di Kabupaten Bandung Barat, tepatnya RSUD Cililin, kebutuhan oksigen juga meningkat drastis. Hal tersebut diungkapkan Kabid Sapras dan Peningkatan SDM pada RSUD Cililin Lia Nurlia seperti dilansir jabarekspres.com Minggu (20/6/2021).

"Sekarang kebutuhan tabung oksigen yang ukuran 6.000 liter meningkat drastis. Sehari bisa habis sekitar 50 sampai 60 tabung, itu kebanyakan untuk pasien Covid-19," ujar Lia, Minggu.

Menurutnya, pada kondisi normal 50 tabung oksigen biasanya habis dalam 3-4 hari. Namun saat ini pihaknya harus keteteran karena mesti menyiapkan minimal 50 tabung dalam sehari.

"Apalagi terkadang stok tabung di kita habis di malam atau dini hari sehingga harus langsung ada gantinya," katanya.

Data covid19.go.id menunjukkan bahwa total kasus COVID-19 terkonfirmasi di Indonesia per Rabu pagi adalah 2.018.113, dengan rincian 152.686 merupakan kasus aktif, 55.291 merupakan kasus meninggal dan 1.810.136 merupakan kasus sembuh.

Editor: Khairisa Ferida