POLHUKAM

Modernisasi ala Kemenhan Beli Kapal Perang Uzur Tuai Kritik

Kapal perang. (ANTARA)
Kapal perang. (ANTARA)

JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia menandatangani kerja sama dengan perusahaan pembuat kapal asal Italia, Fincantieri untuk mendatangkan enam fregat kelas FREMM dan dua fregat bekas kelas Maestrale.

Kapal Fregat kelas Maestrale ini dibuat pada 8 Maret 1978 di galangan kapal Riva Trigoso, Genoa Italia. Banyak pihak yang mempertanyakan tentang kelayakan kapal perang yang terbilang sudah berumur itu.

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais), Laksamana Muda TNI (Purn.) Soleman B. Ponto menjelaskan, ada empat kriteria untuk mengukur kelayakan kapal untuk TNI AL. Pertama, kemampuan mengapung merupakan persyaratan utama untuk sebuah kapal.

Menurut Soleman, jika dibuat pada 1978, kapal tersebut kini sudah berusia 43 tahun. Sepengalamannya, dengan usia itu badan kapal sudah banyak yang menipis dan keropos. Demikian pula dengan gading-gading badan kapal sudah mengalami deformasi.

“Walaupun badan kapal banyak dilakukan penggantian plat, tapi untuk gading-gading kapal tidak mungkin untuk diperbaharui. Dengan demekian kemampuan apung untuk kapal yang sudah berumur 43 tahun sudah sangat rawan,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Senin (28/6/2021).


“Dikhawatirkan untuk menahan ombak laut ZEE saja badan kapal dan gading-gading sudah tidak kuat lagi sehingga dapat mengakibatkan kebocoran bila dihantam ombak,” sambungnya.

Kemudian yang kedua, dari segi kemampuan berlayar kapal berusia 43 tahun, Soleman berpendapat sudah tidak mungkin untuk dioperasikan dalam waktu yang lama. Terlebih suku cadang kapal tersebut sudah tidak diproduksi lagi.

“Bahkan material mesin yang sudah mengalami kelelahan bisa saja meledak, lalu terbakar dan tenggelam. Sebagai contoh, pada tahun 2018, KRI Rencong yang sedang berlayar di perairan Sorong, mesinnya meledak, yang mengakibatkan kapal itu terbakar dan tenggelam,” jelasnya. 

Berikutnya yang sangat penting dari kapal perang adalah kemampuan bertempur. Menurut Soleman, kapal perang dari Italia itu secara teknologi persenjataan sudah tertinggal. Bahkan ia menyebut kapal fregat itu sangat mudah terdeteksi oleh lawan.

“Kemampuan bertempur sebuah kapal perang sangat ditentukan oleh persenjataan di atas kapal itu. Oleh karena Fregat ini jenis lama maka badan kapalnya belum menggunakan teknologi SIGMA seperti kapal-kapal modern saat ini. Jadi tidak dapat membiaskan gelombang elektromagnetik radar lawan,” terangnya.

Keempat, Soleman menyoroti besarnya biaya operasional kapal jenis tersebut. Menurutnya, dalam setahun, kapal-kapal tua itu bisa menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 1 triliun untuk perawatan hingga bahan bakar.

“Dapat terihat betapa borosnya penggunaan anggaran bila kita menggunakan kapal-kapal yang sudah uzur. Inipun saya hitung dengan ukuran penggunaan bahan bakar yang paling hemat,” tegasnya.

Oleh karenanya, melihat keempat tolak ukur tersebut, Soleman menyatakan bahwa kapal fregat itu tidak layak untuk TNI AL dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia. Ia juga menyebut kapal Fregat kelas Maestrale ini tidak pantas untuk disebut sebagai modernisasi alutsista.

“Apa yang diharapkan dengan kapal yang sudah tua kalau tidak mau disebut bangkotan seperti ini? Daya gentar? Non sense. Kena ombak di ZEE pun kapal ini sudah tidak akan mampu. KRI Nanggala yang tenggelam itu buatan tahun 1979, lalu sekarang mau beli yang tahun 1978,” tegasnya.

“Sungguh malang TNI AL-ku, bila di-“modernisasi”kan dengan kapal-kapal yang telah tua bangkotan. Mungkin hanya di Indonesia ada “modernisasi” dengan kapal-kapal yang sudah uzur,” imbuhnya.

Editor: Khoirur Rozi