WARNA-WARNI

Beredar, Survei Minat Gotong Royong Jadi Relawan Vaksin Nusantara

Mantan Menteri Kesehatan (Menkes), dr. Terawan Agus Putranto.
Mantan Menteri Kesehatan (Menkes), dr. Terawan Agus Putranto.


JAKARTA - Beredar sebuah pesan berantai berisikan survei minat masyarakat terhadap Vaksin Nusantara.
 
Survei bertajuk”Survey Minat Gotong Royong Vaksin Nusantara” ditujukan bagi orang-orang yang ingin pengadaan impor vaksin disetop dan mendukung Vaksin Nusantara temuan mantan Menteri Kesehatan (Menkes), dr. Terawan Agus Putranto.

"Dr. Terawan dibantu DPR berusaha buat vaksin anti COVID-19 yang paling aman sekaligus murah untuk Indonesia dan seluruh dunia. Namun beliau masih terhalang izin uji klinis fase III, meski sudah nyatakan tidak minta uang negara, hanya minta tidak dihalangi," demikian bunyi pesan berantai yang redaksi terima pada Rabu (14/7/2021) malam.

Menurut pesan tersebut, uji klinis fase I dan II Vaksin Nusantara sudah berhasil dan sangat menjanjikan, sehingga layak untuk dilanjutkan ke fase berikutnya. Namun, uji klinis tersebut bukan dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), melainkan tim dr. Terawan.

"Bila peminat yang isi survey sangat banyak, hal ini jadi dukungan moral yang sangat positif dalam bentuk angka pada mereka yang berjuang di Jakarta. Bila perjuangan bersama ini berhasil, rakyat dan negara sangat diuntungkan karena tidak perlu impor vaksin lagi. Sangat mungkin Vaksin Nusantara akhirnya digratiskan pemerintah bagi semuanya,” tambah pembuat survei.

Pihak pembuat survei, [email protected], mengaku menggagas survei ini setelah melihat niat baik dan perjuangan dr. Terawan bersama tim dokter pendukung, yang dibantu anggota Komisi VII dan Komisi IX DPR RI, serta tokoh-tokoh nasional yang menjadi relawan seperti dr. Siti Fadillah (mantan Menkes), Prof Nidom (Guru Besar Biologi Molekuler dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga); dan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan bersama rombongan relawanya.


"Survei dimulai 29 Juni 2021, berharap secepatnya terwujud bagi masyarakat yang ingin Vaksin Nusantara di kota atau daerah masing-masing, tanpa harus ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, karena lebih aman, lebih baik, lebih tahan lama, bisa jauh lebih murah, lebih cepat, lebih tidak sakit, dan teknologinya lebih baru dibanding vaksin konvesional seperti Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Merah Putih, dan lain-lain," tulis keterangan survei, seperti dikutip dari laman surveylegend.com.

Disebutkan, sampai uji klinis II, relawan Vaksin Nusantara sangat sedikit, hanya ratusan orang. Oleh karena itu, timbul biaya yang tidak murah untuk ikut, bahkan ada yang per orang mencapai Rp5 juta dan dari luar kota harus berangkat ke RSPAD Jakarta.

"Bila pengikut survei ini cukup banyak, minimal 100 ribu - 1 juta orang sampai akhir Agustus 2021, maka sangat mungkin keinginan kita bisa dipenuhi tanpa perlu berangkat ke RSPAD Jakarta, cukup di kota/daerah masing-masing,” lanjut pembuat survei.

"Karena itu tolong segera share, bagikan, viralkan survei ini ke teman/kerabat/media sosial sehingga jumlah yang berminat segera terpetakan termasuk potensi nilai gotong royong, jumlah peminat per kota/daerah, lengkap dengan sebaran usia, jenis kelamin, serta apakah responden memiliki penyakit penyerta dan sebelumnya sudah pernah mendapat vaksin konvensional lainnya," ajaknya.

Diketahui, survei tersebut tidak meminta identitas dan sangat sederhana karena hanya ada tujuh pertanyaan saja yang wajib dijawab. Peserta tidak perlu mencantumkan nama, alamat e-mail, nomor handphone, dan alamat tempat tinggal.


Video Terkait:
Vaksin Nusantara Konsepnya Tak Jelas
Editor: Halomoan