OPINI

Sejarah Rukun Tetangga dan Rukun Warga


Naskah “Kisah Sukses Warga Melawan Corona” tanggal 14 Juli 2021, ternyata memperoleh banyak tanggapan. Mayoritas tertawa akibat geli, atau marah-marah akibat jengkel terhadap kisah fiktif konser amal untuk para korban Corona mengundang grup band kondang, dan Rhoma Irama. Sehingga tanpa disengaja mendiskreditkan gigi Rhoma Irama. Namun ada pula yang secara positif menanggapi inti makna kisah sukses warga melawan Corona yaitu RT dan RW. 

Pilar Utama

Misalnya deputi Kemenko PMK, Ir. Nyoman Shuida M.Sc menegaskan, bahwa sangat sependapat penanganan pagebluk Corona memang seharusnya diletakkan pada sistem pemerintahan terbawah yakni RW dan RT. Satgas COVID-19 yang perlu diperkuat dan full supported, adalah Satgas COVID-19 yang berada secara berjenjang di RT dan RW. Karena yang mengenal dan dekat warganya adalah ketua RT/RW setidaknya ketua lingkungan.

Ketua RT juga dipilih hasil pemilihan yang cerdas, representatif dan demokratis, demikian juga PPKM Mikro seharusnya adalah di level Mikro yakni RT. Pendek kata pak Nyoman tegas mengakui bahwa RT dan RW memang merupakan soko guru pilar utama pendukung mekanisme sistem kepemerintahan Republik Indonesia.

Ketua RT juga dipilih hasil pemilihan yang cerdas, representatif dan demokratis, demikian juga PPKM Mikro seharusnya adalah di level Mikro yakni RT. Pendek kata pak Nyoman tegas mengakui bahwa RT dan RW memang merupakan soko guru pilar utama pendukung mekanisme sistem kepemerintahan Republik Indonesia.

Sejarah


Lain halnya mahaguru kombinatorika saya DR. Kiki Ariyanti Sugeng, lebih asyik menyoroti aspek sejarah, maka menanyakan siapa sebenarnya yang mendirikan RT dan RW.

Akibat tidak tahu siapa yang mendirikan RT dan RW, maka saya kalang kabut main duga ke sana ke mari demi. Mencari siapa gerangan yang mendirikan RT dan RW. Mulai dari Mendagri zaman Orba sampai ke Menteri entah apa zaman Orla.

Ternyata dugaan asal duga saya sama sekali tidak berkenan, bagi Doktor Kiki. Sehingga beliau langsung memilih konsultasi dengan mbah Google.

Ternyata gayung bersambut, sebab mbah Google tanpa ragu langsung bilang bahwa Pemerintah Militer Jepang yang menduduki kawasan Nusantara (Indonesia saat itu), memperkenalkan sistem tata pemerintahan baru yang disebut Tonarigumi (Rukun Tetangga/RT) dan Azzazyokai (Rukun Kampung/RK sekarang RW).

Setelah saya menimpali bahwa RT dan RW, sebagai pengejawantahan semangat kebersamaan alias Gemeinschaft merupakan akar kemasyarakatan alias Gesselschaft di persada Nusantara tercinta ini.

Langsung Doktor Kiki lanjut berkomplot dengan mbah Google, demi mengungguli timpalan saya, dengan sepakat memaklumatkan pernyataan bersemangat kebanggaan nasional. Bahwa bangsa Indonesia memiliki istilah tidak kalah keren ketimbang bangsa Jerman yaitu paguyuban dan patembayan. Merdeka! (*)

 

*) Jaya Suprana, Budayawan

Editor: Rio Taufiq Adam