TOKOH

Mengenal Sarah Gilbert dan Pernyataannya Soal Hidup yang Tak Bisa Kembali Normal

Sarah Gilbert (The Times)
Sarah Gilbert (The Times)

JAKARTA - Sejak kemarin publik dalam negeri kita ramai membicarakan seorang sosok ilmuwan Inggris yang berperan dalam upaya mengatasi pandemi COVID-19.

Namanya, Dame Sarah Gilbert. Dia adalah profesor yang berperan penting dalam penemuan vaksin AstraZeneca.

Videonya ketika mendapatkan standing ovation dari penonton Wimbledon 2021, pada 28 Juni 2021, viral di media sosial dan dibahas oleh banyak netizen Indonesia.

Standing ovation itu sebagai penghormatan kepada wanita yang bergelar profesor vaksinologi di Institut Jenner Universitas Oxford tersebut. Kala itu Sarah Gilbert sedang hadir menonton pertandingan antara juara bertahan Novak Djokovic dan Jack Draper di Centre Court.

Standing ovation itu sebagai penghormatan kepada wanita yang bergelar profesor vaksinologi di Institut Jenner Universitas Oxford tersebut. Kala itu Sarah Gilbert sedang hadir menonton pertandingan antara juara bertahan Novak Djokovic dan Jack Draper di Centre Court.

Sarah dan beberapa individu lain yang dianggap memberi inspirasi, mendapat undangan khusus untuk menyaksikan pertandingan. Dia duduk di Royal Box, zona khusus yang biasanya dipakai anggota Kerajaan Inggris. Dalam perkenalan, ia dikatakan telah sangat berjasa pada kemanusiaan.


Momen itu menyebar luas di media sosial. Publik terheran-heran dengan kesederhanaan ilmuwan berusia 59 tahun itu. Wajahnya tidak menunjukkan kesombongan, bahkan terkesan terkejut dan malu ketika dirinya diperkenalkan kepada publik.

Yang lebih membuat kagum adalah sikap kemanusiaan Sarah Gilbert yang luar biasa dan kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak orang di dunia.

Sebagai penemu vaksin AstraZeneca, ia ikhlas melepaskan hak paten atas penemuan, yang jika ia pertahankan tentu akan membuat dirinya kaya raya seperti banyak miliarder kelas dunia.
    
Budayawan nasional, Jaya Suprana, dalam sebuah artikel opininya mengatakan, bagi yang mengutamakan kemanusiaan di atas "keduwitan" jelas bahwa kesuriteladanan kemanusiaan yang disumbangkan Sarah Gilbert merupakan suatu harapan cerah bagi segenap umat manusia di planet bumi.

"Prof Sarah Gilbert secara nyata meletakkan bukan keduwitan namun kemanusian sebagai mahkota peradaban,” tulisnya.

Sarjana Sains bidang ilmu Biologi dari University of East Anglia di Norwich, Inggris itu jadi bukti bahwa masih ada manusia yang bisa mengedepankan kepentingan bersama ketimbang kepentingan diri sendiri, di tengah dunia yang semakin jahat.

Bahkan, beberapa netizen Indonesia di media sosial menyebut Sarah Gilbert lebih Pancasilais ketimbang para elite pemerintah yang tadinya berniat menjual vaksin kepada rakyat lewat BUMN Kimia Farma.

Salah satu pernyataan dari Sarah Gilbert adalah, “hidup tidak akan bisa kembali normal sampai seluruh dunia divaksinasi dengan vaksin COVID-19”.

Dikutip dari The Herald, dia memperingatkan bahwa varian virus corona akan terus menjadi ancaman sampai lebih banyak suntikan vaksin dilakukan dan didistribusikan ke populasi dunia.

Dia mengatakan bahwa meskipun vaksin yang tersedia efektif terhadap varian yang beredar saat ini, mungkin ada "situasi yang jauh lebih buruk" jika tingkat COVID-19 tetap tinggi di beberapa bagian dunia.

“Saya harap kita sekarang akan mencapai posisi di mana vaksin diakui diperlukan untuk semua orang.  Mereka dibutuhkan di negara ini dan juga dibutuhkan untuk seluruh dunia, dan sebenarnya memvaksinasi seluruh dunia adalah cara terbaik untuk melindungi kita,” kata Gilbert  dalam program podcast Full Disclosure dengan James O'Brien dari LBC pada 16 Juli.

 “Karena jika tidak, maka akan muncul varian baru, dan kita tidak akan pernah kembali normal jika tidak semua orang bisa divaksinasi,” imbuhnya.

Meskipun Inggris, negeri kelahirannya, sempat merasakan angka kematian tertinggi di Eropa akibat COVID-19, program vaksinasi di Inggris dianggap sebagai salah satu peluncuran tercepat dan paling koheren di dunia.

 

Editor: Halomoan