DAERAH

Polisi Tangkap Pelaku Pemalsu Tabung Oksigen dari Alat Pemadam Kebakaran

Polda Metro Jaya menangkap penjual tabung oksigen yang menggunakan tabung alat pemadam api ringan (APAR). (ANTARA)
Polda Metro Jaya menangkap penjual tabung oksigen yang menggunakan tabung alat pemadam api ringan (APAR). (ANTARA)

JAKARTA - Polda Metro Jaya menangkap seorang pelaku pemalsu tabung oksigen dari alat pemadam api ringan (APAR). Pria berinisial WS tersebut mengubah fungsi alat pemadam kebakaran dengan mengisi dengan oksigen.

"Alat pemadam kebakaran yang biasanya diisi dengan CO2 atau serbuk-serbuk untuk memadamkan kebakaran tetapi dengan upaya tersangka ini untuk mencari keuntungan mengubah tabung ini, kemudian diisi dengan oksigen," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus dikutip dari Antara, Jumat (30/7/2021).

Menurut Yusri, kasus ini terbongkar saat polisi melakukan patroli siber dan menemukan menemukan akun Facebook atas nama Erwan02 yang dicurigai menjual tabung oksigen yang tidak sesuai standar. Polisi kemudian memesan tabung yang dijual WS itu untuk diperiksa.

Ternyata, kecurigaan polisi benar bahwa tabung yang digunakan WS merupakan alat pemadam kebakaran. Hal yang meyakinkan penyidik adalah pada badan tabung terdapat tulisan CO2 dan PMK (pemadam kebakaran).

Yusri menjelaskan, tabung untuk oksigen medis mempunyai spesifikasi khusus dan lebih tebal untuk alasan keamanan. Tabung yang tidak sesuai standar berpotensi meledak apabila dipaksakan untuk diisi dengan oksigen.


"Karena ketebalannya berbeda, ini bisa meledak dan bisa membahayakan," ujarnya.

Atas temuan tersebut polisi kemudian melakukan penangkapan terhadap WS selaku pemilik akun dan penjual tabung oksigen palsu tersebut. Tersangka WS ditangkap pada 27 Juli 2021 di rumahnya di kawasan Tangerang.

Yusri menyebut aksi itu dilakukan pelaku untuk mencari keuntungan dengan memanfaatkan melonjaknya permintaan oksigen baik dari rumah sakit maupun masyarakat.

"Pengakuan sudah 20 tabung dia jual, tapi kami masih mendalami," tambahnya.

Atas perbuatannya, tersangka WS dijerat dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 113 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman 10 tahun penjara.

Editor: Khoirur Rozi