POLHUKAM

Kata Epidemiolog Soal Nasib PPKM

Ilustrasi. (Net)
Ilustrasi. (Net)

JAKARTA - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 akan berakhir pada Senin (2/8/2021). Keputusan mengenai hasil dan ada perpanjangan atau tidak rencananya juga akan diumumkan hari ini.

Terkait hal itu, epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman menilai, pelaksanaan PPKM Level 4 seharusnya tetap dilanjutkan.

"Dari kacamata epidemiolog, idealnya tetap dilanjutkan," kata Dicky ketika dihubungi Info Indonesia melalui WhatsApp, Senin (2/8/2021). 

Dicky mengungkapkan, ada tiga alasan yang menurutnya harus diperpanjang. Pertama, angka positivity rate masih tinggi jauh di atas lima persen, bahkan belum ada wilayah yang mencapai lima persen.

Selain itu, Dicky juga menyebut angka kematian masih cukup tinggi dan terdapat keterbatasan dalam sistem pelaporan dan deteksi.


Alasan ketiga, kata Dicky, walaupun angka ketersediaan tempat tidur di rumah sakit (BOR) sudah turun, namun harus diingat bahwa komposisi masyarakat yang ke rumah sakit mungkin hanya 15-20 persen, sisanya banyak yang isolasi mandiri di rumah.

"Kalau dilonggarkan PPKM-nya, maka kasus kesakitan dan kematian berpotensi meningkat lagi karena kondisinya belum aman," jelas Dicky.

Meski begitu, Dicky tak menampik apabila dilihat dari sisi ekonomi dan sosual, PPKM Level 4 sudah membuat rakyat banyak yang berkeluh kesah. Oleh karena itu, pelonggaran PPKM Level 4 bisa jadi opsi.

"Karena banyak rakyat yang sudah menjerit (urusan perut yang tidak bisa ditunda lagi), maka PPKM bisa jadi akan dilonggarkan. Kita tunggu saja keputusan pemerintah.

"Catatan saya jika pemerintah akan melonggarkan, maka harus melakukan strategi yang cost effective dan berdaya ungkit besar terhadap aspek kesehatan, sosial ekonomi dan memiliki dampak sosial ekonomi. Minimal terhadap kelompok rawan di masyarakat, ke semuanya dilakukan serius, konsisten, setara dan merata," tandasnya.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo