WARNA-WARNI

Keren! Mahasiswa UGM Ciptakan Sistem Pendeteksi Kerumunan

Mahasiswa UGM kembangkan sistem deteksi kerumunan yang diberi nama
Mahasiswa UGM kembangkan sistem deteksi kerumunan yang diberi nama "Syncrom" untuk mencegah penularan COVID-19. (ANTARA)


JAKARTA – Inovasi bidang teknologi sangat dibutuhkan untuk mendukung penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. Sehingga, penanganan pandemi tak hanya bertumpu pada sektor kesehatan saja.

Terkait hal itu, sejumlah mahasiswa lintas fakultas Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan sistem deteksi kerumunan untuk mencegah penularan COVID-19. Sistem ini bernama System of Detection and Crowd Mapping atau disingkat Syncrom.

"Sistem yang kami kembangkan ini dapat mendeteksi adanya kerumunan sekaligus menampilkan informasi kapan dan di mana kerumunan terjadi," kata Ketua tim peneliti Syncrom, Zulfa Andriansyah dikutip dari Antara, Kamis (5/8/2021).

Zulfa menjelaskan, sistem deteksi kerumunan ini dibuat berbasis Deep Learning dan WebGIS. Alat ini mampu mendeteksi adanya kerumunan dengan menyajikan informasi jumlah massa dan menampilkan visualisasi kondisi di lapanga.

Bahkan, ia menyebut data kerumunan yang disajikan mendekati realtime atau waktu sebenarnya. Hebatnya lagi, sistem pemantauan juga dapat dilakukan selama 24 jam tanpa henti.


"Dengan platform ini sistem pemantauan bisa dilakukan secara terus-menerus selama 24 jam. Data terus diupdate setiap 30 detik," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Syncrom dilengkapi dengan fitur peringatan dini adanya kerumunan. Jika kerumunan telah terdeteksi, maka akan ada imbauan melalui pengeras suara secara otomatis.

Cara kerja Syncrom melalui input data visual yang diperoleh melalui CCTV lewat web cam yang terhubung dengan komputer lokal. Perangkat komputer sebelumnya telah diprogram dengan deep learning untuk mendeteksi kerumunan di suatu lokasi.

Setelah itu, hasil data dikirimkan ke WebGIS dalam bentuk informasi terkait lokasi, waktu, dan jumlah kejadian kerumunan yang berada di satu lokasi terpantau CCTV.

"Jika data yang muncul menunjukkan adanya kerumunan, voice alert akan berbunyi untuk memberikan peringatan," ujar Zulfa.

Nantinya, Syncrom juga akan dilengkapi fitur berupa text alert untuk mempermudah petugas dalam pemantauan. Misalnya, ketika petugas sedang tidak berada di ruang kontrol tetap dapat menerima informasi melalui SMS atau telegram apabila terjadi kerumunan.

"Saat ini belum ada produk yang mengintegrasikan deteksi kerumunan dengan pemetaan yang juga disertai dengan adanya peringatan dini. Biasanya deteksi kerumunan dengan memakai sensor proximity menggunakan perangkat pengguna seperti smart phone," jelasnya.

Untuk diketahui, sistem yang dikembangkan sejak Juni 2021 ini telah diujicobakan di lapangan. Hasilnya, Syncrom memiliki akurasi lebih dari 75 persen dalam mendeteksi kerumunan di suatu ruangan.

Syncrom sendiri dikembangkan oleh Zulfa bersama dengan keempat rekannya, yaitu M. Ihsanur Adib (Kartografi dan Penginderaan Jauh), Wahyu Afrizal Bahrul Alam (Teknologi Informasi), Malik Al-Aminullah Samansya (Teknik Nuklir), dan Najmuddin Muntashir ‘Abdussalam (Teknik Industri) di bawah bimbingan dosen Dr. Taufik Hery Purwanto.

Purwarupa deteksi kerumunan tersebut lahir lewat Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2021 yang memperoleh dana hibah pengembangan sebesar Rp9 juta dari Kemdikbudristek.

Editor: Khoirur Rozi