EKONOMI

Washing Plant Beri Nilai Tambah Komoditas Garam

Petani memanen garam di Desa Tambak Cemandi, Sedati, Sidoarjo. (Antara)
Petani memanen garam di Desa Tambak Cemandi, Sedati, Sidoarjo. (Antara)


JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa instalasi washing plant atau alat pencuci garam mampu memberikan nilai tambah bagi para petambak utamanya dalam meningkatkan pendapatan petambak garam.

"Melalui washing plant kualitas garam mampu ditingkatkan kadar NaCl nya hingga 97 persen dan warnanya lebih putih," kata Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Pamuji Lestari, dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (1/9/2021).

Menurutnya, pembangunan alat pencuci dan Gudang Garam Nasional (GGN) melalui sentra ekonomi garam rakyat merupakan program KKP untuk memberdayakan petambak garam. Ia juga menyatakan telah meninjau lokasi GGN dan alat pencuci di Kabupaten Indramayu.

Program yang dilakukan antara lain seperti di Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng Indramayu, merupakan konsep pengembangan garam dari hulu ke hilir, mulai praproduksi, produksi, pasca produksi hingga pemasarannya.

"Washing plant di Indramayu merupakan salah satu dari tujuh washing plant yang dibangun KKP melalui dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2020," jelas Lestari.


Data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten indramayu, sebelumnya rata-rata produksi garam rakyat sekitar 60 ton per hektare per musim, namun sejak KKP mendampingi kini produktivitasnya mencapai 130 ton per hektare per musim.

Lestari menambahkan, KKP berkomitmen untuk meningkatkan produksi dan meningkatkan kualitas garam rakyat diiringi dengan pembinaan ke masyarakat.

"Kita harapkan ini bisa terus berlanjut, tidak hanya di Indramayu tapi juga di beberapa lokasi lainnya sejalan dengan instruksi Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, untuk terus meningkatkan kesejahteraan petambak garam dan meningkatkan Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar)," paparnya.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo