EKONOMI

Bursa Saham Global Merah Semua



JAKARTA - Transaksi bursa efek global, mengalami hari buruknya Senin (20/9/2021). Dalam transaksi kemarin, nyaris semua indeks termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok.

IHSG melemah 56,93 poin atau 0,93 persen ke posisi 6.076,32. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 7,61 poin atau 0,88 persen ke posisi 854,83.

“Katalis negatif bagi IHSG yaitu terkoreksinya indeks di bursa Wall Street sering masih adanya kekhawatiran investor akan dampak negatif penyebaran varian Delta dan sikap hati-hati menunggu rapat The Fed," tulis Tim Riset Indo Premier Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, kemarin.

Katalis negatif lainnya yaitu melemahnya beberapa harga komoditas seperti minyak mentah, minyak sawit mentah (CPO), nikel, dan tembaga.

Dibuka melemah, IHSG terus bergerak di zona merah pada sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih tak mampu beranjak dari teritori negatif sampai penutupan bursa saham.


Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor terkoreksi dengan sektor teknologi turun paling dalam yaitu minus 2,55 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor barang konsumen primer masing-masing turun 1,78 persen dan 1,68 persen. Sedangkan satu sektor meningkat yaitu sektor transportasi & logistik sebesar 2,35 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp361,47 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.307.474 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,44 miliar lembar saham senilai Rp12,17 triliun. Sebanyak 152 saham naik, 386 saham menurun, dan 124 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Hang Seng turun 821,62 poin atau 3,3 persen ke 24.099,14, dan Indeks Straits Times terkoreksi 30,88 poin atau 1,01 persen ke 3.040,35. Sedangkan bursa saham Jepang libur.

Properti Hong Kong Anjlok

Indikator utama Bursa Efek Hong Kong, Indeks Hang Seng (HSI), anjlok 3,30 persen atau 821,62 poin, persentase penurunan terburuk dalam hampir dua bulan, dan penutupan terendah sejak akhir Oktober, terseret oleh saham-saham sektor properti.

Indeks pengembang unggulan atau blue-chip kehilangan 6,7 persen dan indeks yang melacak saham properti dan konstruksi merosot 6,0 persen.

Pasar saham di China daratan ditutup untuk festival pertengahan musim gugur, meskipun indeks berjangka FTSE China yang diperdagangkan di Singapura jatuh 3,22 persen.

“Sentimen pasar rapuh di Hong Kong saat ini," kata Dickie Wong, Direktur Riset di Kingston Securities.

Dia mengatakan, penurunan itu karena meningkatnya risiko gagal bayar di pengembang properti China dan kekhawatiran bahwa agenda "kemakmuran bersama" Beijing juga akan mencakup nama-nama real estat Hong Kong, meskipun dia mengatakan, yang terakhir kemungkinan merupakan reaksi berlebihan.

Saham Ag Bank di Hong Kong ditutup jatuh 3,3 persen, Minsheng Bank anjlok 5,9 persen dan CITIC Bank merosot 5,1 persen.

Dampaknya juga menambah tekanan pada yuan, yang jatuh ke level terendah tiga minggu di 6,4848 per dolar dalam perdagangan luar negeri.

"Saya pikir itu salah satu poin pemicu," kata analis Mizuho, Ken Cheung, yang mengatakan ketidakstabilan pasar yang diakibatkan oleh Evergrande menambah daya pikat dolar bersama dengan data ekonomi yang lemah baru-baru ini di China dan ekspektasi pengurangan stimulus AS.

“Dengan pasar darat libur, PBOC (bank sentral China) mungkin memiliki panduan yang lebih sedikit mengenai renminbi,” tambahnya.

Dolar Hong Kong turun menjadi 7,7881 per dolar AS, juga level terendah dalam tiga minggu.

Saham Eropa Terpuruk

Saham-saham di Benua Biru jatuh ke level terendah hampir dua bulan pada perdagangan Senin pagi.  Dengan indeks acuan Jerman merosot 2,0 persen, karena investor khawatir bank-bank sentral utama akan mulai memberikan isyarat tentang pengurangan program stimulus era pandemi mereka di beberapa pertemuan minggu ini.

Indeks STOXX 600 pan-Eropa terpangkas 1,5 persen pada pukul 07.45 GMT, dengan saham pertambangan jatuh 3,2 persen karena penurunan harga-harga komoditas.

Indek acuan STOXX 600 Eropa kini telah jatuh selama tiga minggu berturut-turut, di tengah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global, inflasi yang melonjak, kasus COVID-19 yang terus-menerus tinggi, dan dampak dari regulasi yang lebih ketat terhadap perusahaan-perusahaan China.

Pertemuan kebijakan Federal Reserve (Fed) AS menjadi fokus pada Selasa (21/9/2021) dan Rabu (22/9/2021), di mana bank sentral diperkirakan akan meletakkan dasar untuk pengurangan pembelian asetnya (tapering). Secara keseluruhan, 16 bank sentral dijadwalkan mengadakan pertemuan minggu ini, termasuk di Inggris, Norwegia, Swiss, dan Jepang.

“Yang pasti, (Fed) diperkirakan mengabaikan mempertahankan keran QE (pelonggaran kuantitatif) terbuka pada (pertemuan minggu ini), mengingat kekecewaan atas data pekerjaan Agustus yang cukup besar di samping indikator ekonomi yang lemah," kata Kepala Ekonomi dan Strategi Mizuho, Vishnu Varathan.

“Tapi ini hanya menunda tapering. Pertanyaannya seberapa banyak.”

Saham Jerman jatuh 1,8 persen ke level terendah sejak akhir Juli, karena data menunjukkan lonjakan harga produsen yang lebih besar dari perkiraan bulan lalu.

Dalam perombakan terbesar yang pernah ada, indeks saham unggulan Jerman mulai diperdagangkan pada Senin dengan peningkatan jumlah konstituen menjadi 40 perusahaan dari 30 perusahaan.

Pengukur ketakutan Eropa juga melonjak ke level tertinggi empat bulan.

Saham-saham perusahaan produsen barang-barang fesyen mewah yang terpapar China seperti LVMH, Kering, Hermes dan Richemont turun antara 2,5 persen dan 3,7 persen, memperpanjang penurunan tajam dari minggu lalu.

Daimler AG merosot 2,3 persen karena sebuah laporan mengutip kepala divisi truknya, yang terbesar di dunia, mengatakan bahwa unit tersebut telah melihat pasokan chip penting semakin ketat dalam beberapa pekan terakhir.

Di sisi lain, Lufthansa membalikkan penurunan awal menjadi melonjak 3,1 persen setelah mengatakan pihaknya memperkirakan akan mengumpulkan EUR2,14 miliar (USD2,51 miliar) untuk membayar kembali sebagian dana talangan negara yang diterima maskapai top Jerman itu selama krisis virus Corona.

Semua subindeks utama Eropa lebih rendah pada perdagangan kemarin, dengan perawatan kesehatan, utilitas, makanan dan minuman dan real estat mencatat penurunan terkecil. Kelompok ini dianggap sebagai taruhan yang lebih aman pada saat volatilitas ekonomi meningkat. (*)

Editor: Rio Taufiq Adam