OLAHRAGA

La Ode Nurdiansah, Pria Beranak Tiga yang Tetap Optimis Juarai Esports

La Ode Nurdiansah. (Liputan6)
La Ode Nurdiansah. (Liputan6)

JAKARTA - Belum lama ini nama Muhammad Rafli Setiawan yang berusia 13 tahun menjadi atlet Esport termuda di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua menyita perhatian publik. 

Kali ini giliran La Ode Nurdiansah Amir Jaya Mahdi menjadi perbincangan, di mana ia salah satu peserta tertua ajang Esports yang tampil di ekshibisi PON XX Papua 2021.

La Ode mengakui sudah bermain gim khususnya PES (Pro Evolution Soccer) sedari era konsol PS1 hingga PS4 sekarang.

"Saya sudah main sejak di konsol PS1 hingga PS4 saat ini," katanya. 

Saat ditanya apakah dirinya memiliki konsol, La Ode menjawab dengan apa adanya. 


"Tidak punya, main di rumah kawan," katanya.

Meski tidak memiliki konsol PS4 untuk bermain eFootball PES 2021, pria yang sedang menanti kelahiran anaknya yang keempat ini tidak putus keinginan bertanding di PON XX Papua. La Ode mengaku selalu ikut kompetisi Esports antar daerah di Marauke dan sekitarnya.

"Sering ikut kompetisi antar daerah dan menjadi juara. Lawannya itu-itu saja, ingin bertanding dengan player di luar Merauke," jelasnya

La Ode menjelaskan, keinginannya bertanding dengan lawan selain dari Marauke karena menjadi tolak ukur kemampuan seorang pemain gim.

"Kebetulan atlet Esports yang hadir di Papua ini memiliki track record bertanding di kancah Asia hingga dunia. Jadi, saya ingin bertanding melawan mereka untuk mengambil pengalaman," ujarnya.

"Semua tim memang lawan berat karena sudah memiliki jam terbang luar biasa, tapi saya sudah menyiapkan strategi untuk melawan mereka," jawab La Ode terkait provinsi mana yang akan menjadi lawan beratnya.

Selain ingin menguji kemampuan, La Ode juga bertujuan untuk bermain eFootball PES 2021 di tingkat profesional. 

"Dengan ekshibisi di Papua ini, para ofisial dari liga PES baru tahu ada player gim PES dari Papua dan Papua Barat. Kita memang tidak pernah bertanding online, ini karena terkendala dengan jaringan internet. Dengan koneksi sehari-hari, kita pasti sudah kalah dengan player dari kota lainnya," paparnya.

Dengan kehadiran ekshibisi Esports di PON Papua ini, La Ode berharap kancah Esports di Bumi Cenderawasih dapat berkembang dengan pesat.

"Meski terkendala dengan jaringan internet kurang stabil, semoga hal itu tidak menjadi penghalang atlet esports bertanding dengan player lainnya," ujar La Ode.

La Ode tidak asing dengan dunia olahraga dan pertandingan kompetitif. Sejak kelas 2 SD dirinya sudah menekuni bela diri silat hingga karate. Sering waktu, karate yang digelutinya mampu membawa La Ode bertanding di kompetisi tingkat nasional. Ia mengatakan sempat menjadi wakil Merauke dan Papua untuk kejuaraan nasional karate.

"Sempat ikutan perebutan Piala Mendagri 2002 dan juga ikut Kejurnas Inkado 2007. Saya vakum dari karate pada 2010. Berhenti ikut kompetisi karena umur, kalah dengan yang muda," katanya. 

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo