OPINI

Public Figure, Haters dan Netizen Budiman


HARI ini, sembari saya melihat-lihat postingan di lini masa Facebook, mata saya tertuju kepada satu berita, mengenai seorang public figure terkenal di negeri ini, yang telah melaporkan salah satu haters-nya kepada pihak berwajib. Yang saya tahu, public figure ini juga terkenal dengan reputasi yang cukup kontroversi.

Orang-orang mengenalnya dengan nama Atta Halilintar. Meskipun Atta Halilintar terkenal dengan image yang sedikit kurang baik, nyatanya ia memiliki banyak fans militan dengan jumlah yang saya sendiri tidak sanggup menghitungnya dengan jari. Fans-nya sendiri menurut saya, demografinya kebanyakan dari usia muda, hingga dewasa.

Dilihat dari konten-konten milik Atta Halilintar yang memang selalu tersaji dengan pembawaan yang enerjik, ritme yang cepat, serta penggunaan bahasa yang easy-going. Atta Halilintar adalah seorang public figure, yang sangat terkenal sebagai content creator di YouTube. Dengan banyak harta dan koneksi yang dimiliki, beragam konten bisa ia kemas sedemikian rupa sehingga menjadi asupan penggemarnya setiap hari. Namun sayangnya, kuantitas terkadang berbanding terbalik dengan kualitas.

Hampir setiap hari ia membuat konten, namun mayoritas kontennya tidak memberi value untuk orang-orang walaupun termasuk ke dalam kategori entertainment. Sebut saja, prank yang dibuat-buat, vlog (video blog) aktivitas rutin setiap hari, dan semacamnya. Apakah hal tersebut bermanfaat? Mungkin bagi sebagian orang, akan menjawab ‘iya’. Namun mohon maaf saya sendiri akan mengatakan ‘tidak’. 

Kembali lagi ke pembahasan salah satu haters-nya. Memang benar sesuai yang diberitakan media kalau Atta Halilintar sedang mengurus salah satu haters-nya yang bernama Savas Fresh, kepada pihak berwajib. Hal ini sebenarnya sudah biasa dilakukan oleh public figure lain seperti Deddy Corbuzier dan Ayu Ting-Ting, dalam melaporkan haters karena menghina mereka. Meski begitu, hal ini tetap menjadi perbincangan hebat di dunia maya. Karena yang terjadi dengan meraka, menjadi publisitas untuk masyarakat. Termasuk saya, yang tergerak untuk menulis tulisan ini.


Menjadi public figure, bukanlah hal yang mudah. Tanggapan masyarakat pun bermacam-macam dalam menanggapinya. Atta Halilintar sendiri sering menjadi bahan lelucon untuk meme di kalangan pengguna Facebook dan media sosial lain. Namun, saya pikir sah-sah saja jika seseorang dianggap sebagai lelucon asalkan masih dalam batas wajar. Nah, batas wajar inilah yang seringkali dilupakan oleh para peselancar di internet.

Di tengah kokohnya pemahaman kebebasan berpendapat, dan topeng awanama, ada yang menganggap bahwa internet merupakan tempat bermain yang asyik. Pemahaman ini tidak salah karena saya sendiri merasakannya. Namun, sangat disayangkan mereka lupa bahwa sebebas apapun berpendapat, pasti ada batas wajarnya. Inilah pentingnya etika yang seharusnya diajarkan sedini mungkin. Dikutip dari Kamus Filsafat oleh Lorens Bagus, etika apabila dimaknai secara etimologi memiliki asal muasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu ethos dan ethikos.

Ethos artinya sifat, watak kebiasaan, tempat yang biasa. Sedangkan ethikos berarti susila, keadaban, kelakuan dan perbuatan yang baik. Etika sangat erat kaitannya dengan panduan bagaimana membiasakan hidup dengan baik meliputi tata caranya yang berlaku baik kepada diri sendiri maupun kepada masyarakat. Etika juga harus digaungkan tidak hanya dalam kehidupan nyata saja, yaitu kepada kehidupan dunia maya juga, dunia internet.

Konsep ini sudah jelas, karena di mana pun kita berada, pasti ada aturan, nilai, dan norma berbentuk perintah dan larangan yang menyertainya. Hal tersebut merupakan hal dasar yang sangat penting untuk dipahami, dan dilakukan karena memberi dampak jangka panjang kepada diri sendiri dan orang lain.

Kembali ke Atta Halilintar, saya sangat yakin, ia adalah orang yang kuat, tetapi kesabarannya sudah habis. Ia tentu saja akan melaporkan salah satu haters-nya yang bandel. Menjadi public figure memang harus siap menghadapi risiko apapun yang tidak sejalan dengan ekspetasi. Public figure menurut saya bukanlah orang yang ‘layak’ untuk dihina dan dicemooh hanya karena kita sebagai penonton, tidak memiliki satu pikiran yang sama.

Atta Halilintar sejatinya adalah manusia seperti kita juga, yang lebih pantas untuk diperlakukan baik sebagaimana kita dengan manusia lainnya. Namun karena kita berada di internet, kita tidak bisa mengontrol banyak hal, bukan? Dalam situasi ini, kita tidak bisa menganggap ia melakukan abuse of power hanya karena ia punya kendali massa yang besar. Atta Halilintar membuat laporan untuk pembelaan dirinya, karena memang merupakan hal yang sangat wajar. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama apabila dicemooh, dirundung, ataupun dilecehkan orang lain. Orang-orang di internet memang bisa bebas menyembunyikan dirinya dan melakukan apa yang mereka mau. Mereka berani melakukan itu karena mereka pikir internet adalah tempat yang sangat aman. Nyatanya itu salah besar.

Saya ingin berpesan bahwa, meski dikatakan kita menganut pemahaman bebas berpendapat, sangat penting untuk diketahui bahwa bebas berpendapat bukanlah bebas secara total. Kita sebagai netizen yang budiman juga harus memerhatikan adanya eksistensi orang lain.
Saya bukan pendukung militan Atta Halilintar, yang mengatakan siapa pun tidak boleh mengkritiknya, karena ia adalah seseorang yang harus diperlakukan layaknya raja. Atta Halilintar meski setiap hari dipuji ataupun dihina, pemasukannya tetap mengalir deras. Pemasukan saya sendiri akan kalah jauh dibandingkan dengan biaya makan siang keluarganya untuk selama satu hari.

Jadi saya pikir, menghabiskan waktu untuk menghina dan memujanya, juga merupakan pekerjaan yang sia-sia. Saya lebih baik melakukan hal lain yang lebih berguna dari itu. Kesadaran akan eksistensi Atta Halilintar melalui branding yang ia bentuk sedemikian rupa, tidak akan pernah mati. Saya sangat yakin akan hal itu. Dalam melindungi nama baik pribadi dan branding-nya, Atta Halilintar tentu tidak segan melaporkan salah satu haters-nya ke polisi. Saya setuju dengan aksi pelaporan ini, karena merupakan suatu pemberian efek jera secara jelas. Agar mereka yang belum ada kesiapan untuk berperilaku sewajarnya di internet, bisa diberi pelajaran secepatnya.

Saya sendiri tidak bisa mengharuskan netizen untuk berperilaku sesuai keinginan saya dalam menggunakan internet. Netizen memegang kendali atas dirinya sendiri. Saya di sini hanya bisa memberi peringatan karena hal seperti ini dampaknya bisa kecil dan besar, cepat atau lambat. Kalau tulisan dan lisan kita bisa menorehkan sesuatu yang baik, kenapa harus memilih untuk menorehkan yang jahat? Apapun situasinya, ingat untuk selalu bersikap bijak. Jika kita tidak suka terhadap seorang public figure, entah siapapun itu, solusi terbaik untuk menanggapinya adalah abaikan dan jangan beri mereka panggung. Sesederhana itu saja.

Muhammad Hendi Al'Ishar
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman)

Artikel ini sudah ditayangkan di Koran Info Indonesia.


Video Terkait:
Serda Aprilia Memiliki Kelainan Reproduksi
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo