POLHUKAM

Dihujat Habis-habisan, Staf Ahli Menkominfo Banyak Gelar Tapi Otak Kosong

Staf Ahli Menkominfo bidang Komunikasi dan Media Masa, Profesor Henry Subiakto / Net
Staf Ahli Menkominfo bidang Komunikasi dan Media Masa, Profesor Henry Subiakto / Net

JAKARTA - Lantaran dianggap tidak bisa membedakan antara bangsa dan negara, Staf Ahli Menkominfo bidang Komunikasi dan Media Masa, Profesor Henry Subiakto di-bully oleh beberapa tokoh dan juga para warganet atau Netizen.

Awalnya Henry menyindir kelompok yang kerap menjelek-jelekkan pemerintah. Dirinya menulis orang yang gemar menebar kebencian kepada Negara atau pemerintah, tidak boleh dikasih pekerjaan dan jabatan. Pemikiran Henry, orang seperti itu nantinya akan berkhianat.

"Orang yang menjelek-jelekkan negara dan bangsanya sendiri itu selayaknya kalau cari kerja atau jabatan tidak pantas diterima. Baik di perusahaan maupun di institusi manapun. Karena dengan bangsa dan negaranya saja bisa berkhianat apalagi hanya dengan orang, perusahaan atau institusi?" tulis Henry di akun Twitter miliknya, yang dikutip Info Indonesia, Rabu (13/10/2021).

Atas kicauan Henry, aktivis Nicho Silalahi mengaku heran. Dirinya menyebut Henry bloon lantaran dinilai tidak bisa membedakan kritik kepada negara, dan menjelekkan negara.

"Kok prof jadi bloon sih? Teretorial + Pemerintahan + Rakyat = Maka Disebut Negara. Jika Rakyat Mengungkapkan Fakta Dengan Mengatakan Pemerintah Memang Jelek Terus Kau Anggap Melawan Negara?" tulis Nicho.


Dia juga heran dengan gelar akademik yang disandang oleh Henry Subiakto. Dari guru besar hingga profesor. "Waduh kenapa jaman sekarang gelar aja yang deabrek tapi atak kosong."

Anggota DPR RI, Fadli Zon menilai, Henry tidak bisa membedakan antara bangsa dan negara. "Yang bersangkutan belum bisa membedakan antara negara, bangsa dan pemerintah. Padahal ini soal elementer," tulis Fadli Zon.

M Said Didu, mantan sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara itu pun ikut menanggapinya. Disampaikan Said Didu, kritik kepada pemerintah adalah hak rakyat.

"Negara terdiri dari rakyat, wilayah dan pemerintah. Mengkritisi pemerintah adalah hak rakyat. Justru yang buat janji palsu, kebohongan, beratkan hidup rakyat, tidak adil dan/atau makan gaji dari rakyat tapi musuhi rakyat bisa termasuk penghianat. Semoga jelas," kata Said Didu.

"Dalam konteks ini gue percaya quote RG (Rocky Gerung): Ijazah itu tanda anda pernah sekolah. Bukan tanda anda pernah berpikir," tulis Maudy Asmara, warganet yang juga ikut menanggapi cuit Henry.

"Mudah-mudahan anak turunmu persis seperti RG yang kamu banggakan, amin," tulis Henry Subiakto menanggapi Maudy Asmara.

"Mudah-mudahan anak turunmu persis seperti jokowi yang kamu banggakan, amin," sahut pemilik akun @Markonah_003.

"Amin ya rabbal alamin, punya turunan jadi tokoh yang santun, cinta keluarga, bisa jadi walikota, gubernur lalu memimpin Indonesia dua periode. Bagus itu. Anakmu semoga jomblo terus seperti RG," kata Henry yang juga menyertakan emoticon tertawa berguling di lantai. [***]

Editor: Ipung