POLHUKAM

KTP Ini Bukti Versi Ketiga Tahun Lahir Jaksa Agung Burhanuddin


JAKARTA - Setelah data ganda tahun kelahiran dan latar belakang pendidikan Jaksa Agung ST Burhanuddin menjadi sorotan beberapa waktu lalu, kini muncul informasi terbaru tentang hal yang sama. Kali ini pun masih soal tahun kelahiran Burhanuddin berdasarkan kartu tanda penduduk (KTP) yang beralamat di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Soal itu, Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, pihaknya menyimpan dan mengetahui kebenaran identitas kependudukan setiap warga negara. Akan tetapi, tentu saja itu menjadi bagian dari data pribadi.

"Kami menyimpan, kami tahu, tapi kami tidak bisa memberi tahu, karena itu bagian dari privasi," kata Zudan saat dihubungi INFO INDONESIA, Senin (25/10).

Berkaitan dengan data ganda Jaksa Agung Burhanuddin itu, Zudan menyarankan agar menanyakan ke instansi terkait. "Kalau di sana (Instagram Kejaksaan RI) ada, ya sudah tanyakan saja di sana," tutur Zudan.

Sementara data ketiga tahun lahir Jaksa Agung Burhanuddin berdasarkan KTP yang beralamat di Pejaten Barat, Pasar Minggu, Zudan enggan mengomentarinya.


Dalam KTP itu dengan nomor induk kependudukan (NIK) 317404** tertulis atas nama Dr. ST Burhanuddin, SH, MM, MH. Fotonya pun sama dengan wajah Jaksa Agung Burhanuddin. Pada KTP itu, Burhanuddin ditulis lahir di Cirebon, 17 Juli 1960. Setelah data ganda sebelumnya yakni 1959 dan 1954, ini merupakan ketiga untuk tahun lahir Burhanuddin.

Masih berdasarkan informasi di KTP itu, Burhanuddin beralamat di Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kemudian, tahun pembuatan KTP itu tertulis pada 2010. Statusnya ditulis kawin dan bekerja sebagai karyawan swasta. Untuk diketahui pada 2010, ST Burhanuddin merupakan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan atau menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Lantas mengapa dalam KTP itu, Burhanuddin mengaku sebagai karyawan swasta?

"Kita tidak mengurusi data aparatur sipil negara (ASN), yang mengurusi bagian Badan Kepegawaian Negara," Ketua Komisioner ASN Agus Pramusinto yang dihubungi secara terpisah.

Selain itu, dengan NIK serupa, Burhanuddin juga terdaftar sebagai pemilih tetap dengan tempat pemungutan suara (TPS) 0011, Pejaten Barat, Pasar Minggu.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Wibisana memastikan, berdasarkan Sistem Aplikasi Pelayanan Kepegawaian (SAPK), Jaksa Agung Burhanuddin dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) 195407171987031001, lahir pada 1954. Karena itu, statusnya saat ini sudah pensiun sebagai pegawai negeri sipil.

"Kalau Pak (Jaksa Agung) ST Burhanuddin, hanya ada 1 data di SAPK BKN. Lahir tahun 1954. NIP 195407171987031001. Status Pensiun,” kata Bima saat dihubungi.

Sedangkan Kaspuspenkum Kejaksaan Agung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak saat ditanyakan soal itu sama sekali tidak menjawab hingga berita ini diterbitkan.

Sebelumnya, data ganda tahun lahir Jaksa Agung Burhanuddin bahkan bisa dilihat dari 2 versi. Pertama, versi pengakuan Burhanuddin dalam berbagai wawancara dan buku pidato pengukuhannya sebagai profesor ilmu hukum pidana di Universitas Soedirman. Wawancara dalam program E-Talkshow with BHS tvOne yang digawangi Wahyu Muryadi pada Juni 2020, Burhanuddin mengaku kelahiran 1959.

Begitu juga dalam artikel profil Kompaspedia yang dimuat kompas.id 16 Maret 2021, tahun kelahiran Burhanuddin ditulis 17 Juli 1959. Terakhir, dalam buku pidato pengukuhannya sebagai profesor, Burhanuddin mengaku kelahiran 17 Juli 1959.

Sementara versi kedua, berdasarkan informasi di berbagai saluran resmi Kejaksaan Agung, Laporan Tahunan Kejaksaan RI 2012 dan Sistem Informasi Manajemen Kejaksaan Republik Indonesia (Simkari). Informasi Simkari, misalnya, Burhanuddin disebut kelahiran 17 Juli 1954. Itu sebabnya, nomor induk pegawainya atau NIP pada Simkari itu dimulai dari angka 1954.

Begitu juga di Instagram resmi Kejaksaan RI, Jaksa Agung Burhanuddin dituliskan lahir pada 17 Juli 1954. Lalu, dalam buku Laporan Tahunan Kejaksaan RI 2012 tahun kelahiran Burhanuddin juga ditulis 17 Juli 1954. Dalam buku tahunan wisuda magister manajemen Sekolah Tinggi Manajemen Labora, Burhanuddin ditulis lahir pada 17 Juli 1954. Bahkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) menegaskan NIP 195407171987031001 itu atas nama ST Burhanuddin dan sudah pensiun pada 2014.

Tahun kelahiran Burhanuddin yang ganda itu tentu saja mempengaruhi tahun kelulusan seluruh jenjang pendidikannya. Berdasarkan Instagram resmi Kejaksaan RI, Burhanuddin ditulis lulusan SD Negeri Majalengka tahun 1962. Jika Burhanuddin lahir pada 1959, maka dalam umur 3 tahun, dia sudah lulus SD. Jika lahir pada 1954, dalam umur 8 tahun, Burhanuddin sudah lulus SD.

Masih berdasarkan informasi dari Instagram Kejaksaan RI itu, Burhanuddin ditulis lulusan SMP Negeri Majalengka tahun 1968. Apabila Burhanuddin kelahiran 1959, maka dalam umur 9 tahun, dia sudah lulus SMP. Jika Burhanuddin lahir 1954, dalam umur 14 tahun sudah lulus SMP.

Selanjutnya, Burhanuddin ditulis juga lulus dari SMA Negeri Magetan tahun 1972. Jika Burhanuddin lahir 1959, maka dalam umur 13 tahun dia sudah lulus SMA. Jika Burhanuddin lahir pada 1954, maka dalam umur 18 tahun, dia lulus SMA.

Sementara data dalam buku pidato pengukuhannya sebagai profesor, Burhanuddin ditulis lulus SD Negeri Majalengka tahun 1972, lulus SMP Negeri Majalengka tahun 1975 dan lulus SMA Negeri Magelang tahun 1978. Kedua sumber data itu menampilkan informasi yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Semua sumber informasi tentang data ganda Burhanuddin itu harusnya merujuk kepada dokumen awal ketika menapaki karier sebagai pegawai negeri sipil sekaligus menjadi jaksa.

Begitu juga dengan latar belakang pendidikan Jaksa Agung Burhanuddin yang belum ada kepastian hingga saat ini. Berdasarkan buku pidato pengukuhannya sebagai profesor dan data Kapuspenkum Kejagung, diketahui Jaksa Agung merupakan lulusan Universitas 17 Agustus di Semarang (Strata I), Sekolah Tinggi Manajemen Labora di DKI Jakarta (Strata II), dan Universitas Satyagama di DKI Jakarta (Strata III).

Sementara versi Instagram Kejaksaan Agung dan Buku Laporan Tahunan Kejagung 2012, dikatakan, ST Burhanuddin adalah lulusan Sarjana Hukum Pidana UNDIP Semarang (tahun 1980), Magister Manajemen UI Jakarta (2001), dan Doktor UI Jakarta (2006). [***]

Laporan: Saeful Anwar; Moehamad Dheny Permana

Editor: Saeful Anwar