OPINI

Menggratiskan Tes PCR Pasti Mampu Jika Mau


GEGARA  cemas pagebluk Corona seperti di akhir 2020 akan melonjak kembali di akhir 2021. Maka pemerintah memaklumatkan kewajiban PCR bagi para calon penumpang pesawat terbang.

Bingungologi
Sayang maklumat, dimaklumatkan secara membingungkan. Maklumat wajib tes PCR saling beda antara Menteri Dalam Negeri dengan Menteri Perhubungan. Sementara mungkin, akibat sudah terlalu terbebani beban tambahan urusan plahraga bahkan pemuda maka Menteri Pariwisata, "no comment". Kewajiban tes PCR agak mirip kewajiban tes wawasan kebangsaan, yang fungsinya terkesan jika bisa dipersulit, kenapa tidak dipersulit saja. Kewajiban tes PCR bagi para calon penumpang pesawat terbang, juga terkesan komersial. Selama tes PCR masih harus berbayar. Alasan tes PCR memang tidak bisa tidak, harus berbayar. Akibat tes PCR memang wajib berbayar, sebab mustahil digratiskan, pada hakikatnya secara alasanologis terkesan dipaksakan belaka. Sebab sudah terbukti secara nyata, tak terbantahkan bahwa anak-anak muda di Kupang, berhasil menggratiskan tes PCR yang berarti hoaks, apabila menyatakan tes PCR mustahil digratiskan. Kalau mau pasti mampu. Memang dapat dimengerti bahwa, para produsen dan distributor tes PCR, memang bukan para dermawan atau filantropis. Maka mustahil mereka menggratiskan produk mereka. Kecuali memang sengaja ingin membangkrutkan diri sendiri.

Kenapalogi
Namun perlu disimak kenyataan tak terbantahkan pula, bahwa tes PCR terbukti bisa gratis di Australia, Selandia Baru, Jerman untuk warga negeri masing-masing. Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana, yaitu karena biaya penyelenggaraan tes PCR diambil-alih sepenuhnya oleh pemerintah. Berarti kalau mau pasti mampu menggratiskan tes PCR. Tentu saja contoh tes PCR digratiskan, bisa dilaksanakan apabila pemerintah mendukung dengan mudah digugurkan, dengan dalih, lain padang lain belalang. Yaitu, pemerintah Indonesia tidak sama dengan pemerintah negara-negara yang mampu, sebab mau menggratiskan tes PCR. Memang, dengan mudah harapan tes PCR gratis, langsung digugurkan dengan alasan, pemerintah Indonesia tidak punya dana. Meski kemudian, secara kenapamologis muncul sebuah pertanyaan lain, menghantui kalbu sanubari mereka yang masih mau bertanya. Jika pemerintah punya uang untuk membangun sirkuit balap mobil, rel kereta api super cepat, bahkan membangun ibu kota baru, lalu kenapa pemerintah tidak punya uang untuk menggratiskan tes PCR, yang secara langsung terkait bukan hanya kesehatan, namun juga nyawa para calon penumpang pesawat terbang?

Tampaknya rumput bergoyang pun tidak akan mampu. Kecuali mau menjawab pertanyaan yang terakhir ini.

Jaya Suprana.
(Pembelajar Kebudayaan dan Peradaban)


Artikel ini sudah ditayangkan di Koran Info Indonesia.

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo