POLHUKAM

Ruhut Sitompul Ingatkan Gede Pasek Jaga Silahturahmi dengan Oesman Sapta

Tiga mantan kader Partai Demokrat, Gede Pasek Suaardika (kiri), Saan Mustofa (tengah), dan Ruhut Sitompul (kiri) / Net
Tiga mantan kader Partai Demokrat, Gede Pasek Suaardika (kiri), Saan Mustofa (tengah), dan Ruhut Sitompul (kiri) / Net


JAKARTA - Politikus PDI Perjuangan Ruhut Sitompul atau yang tenar dengan sapaan Bang Poltak, memberikan saran kepada Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara, I Gede Pasek Suardika.

Ruhut yang merupakan eks kader Demokrat dan Golkar itu menyarankan agar Gede Pasek tetap menjaga hubungan baik dengan Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO).

"Yang penting hubungan baik tetap dijaga dengan pak Oesman Sapta, karena Oesman Sapta sahabat saya," ujar Ruhut saat dihubungi INFO INDONESIA, Senin (01/11/2021).

Ruhut menilai pindahnya Gede Pasek dari Partai Hanura merupakan sebuah hak demokrasi yang tidak bisa dibatasi. "Ya itu Demokrasi, nggak apa-apa dia pindah, yang penting tetap jaga hubungan sama OSO, karena dia orang baik," ujar Ruhut.

Meski begitu, Ruhut heran karena dirinya acap kali menjadi permasalahan setiap pindah partai, sementara tidak begitu yang dialami Gede Pasek.


"Iya setahu aku dia sekitar berapa partai ya, empat partai apa, tapi itulah gua baru dua partai saja sudah ribut mulut orang, tapi kalau dia orang gak ribut," kata dia.

Sebelumnya, Sri Mulyono yang merupakan inisiator PKN menyampaikan, Gede Pasek telah resmi bergabung ke partai tersebut.

Menurutnya, Gede Pasek merupakan sosok politikus yang hebat dan memiliki rekam jejak yang baik. Dan pemikirannya terhadap politik di Indonesia sangat mempuni.

"Sebenarnya begitu mendengar seringnya ide dan gagasan politiknya dihambat sehingga tidak bisa maksimal. Kami sudah meminta GPS (sapaan akrab Gede Pasek) untuk keluar saja dan merintis dari nol dan lebih sehat," kata Sri Mulyono dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Sabtu (30/10/2021).

Namun, kata Sri Mulyono, GPS menyatakan tidak enak meninggalkan Hanura karena sudah terlanjur memiliki jalinan erat dengan banyak kader di daerah.

Sri Mulyono mengatakan, kemampuan dan pemikiran GPS yang mumpuni di bidang politik tidak diberikan ruang kreativitas. Akhirnya dengan pertimbangan kalkulasi waktu dan kesiapan untuk penataan partai, GPS bersedia untuk menakhodai PKN.

"Begitu bersedia, GPS meminta ide gagasan politik kebangsaan yang diimpikan bisa dijadikan tulang punggung perjuangan. maka lahirlah Partai Kebangkitan Nusantara," tutur dia.  [***]

Editor: Saeful Anwar