DAERAH

BRIN Sebut Mangrove Potensi Ekowisata di Kabupaten Seram Bagian Timur

Area hutan mangrove di Pulau Keffing, Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku potensial dikembangkan untuk destinasi ekowisata.
Area hutan mangrove di Pulau Keffing, Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku potensial dikembangkan untuk destinasi ekowisata.


AMBON – Hutan mangrove di Pulau Kwamor, Keffing dan Geser di Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, yang masih alami potensial untuk dikembangkan, sebagai kawasan ekowisata dan pusat studi terkait tanaman tersebut.

"Sumber daya mangrove di Pulau Kwamor, Keffing dan Geser rimbun dan masih alami, potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata," kata kata Perekayasa (Inovator) Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Daniel D Pelasula, di Ambon, Rabu (3/11).

Ia mengatakan, hasil pengukuran Citra Landsat 8 TM pada 2016, luasan hutan mangrove Pulau Kwamor mencapai 3975,5 hektare, di Pulau Keffing 10,68 hektare, terbagi dalam vegetasi mangrove 3,78 hektare, dan vegetasi campuran 6,92 hektare, dan di Pulau Geser sebesar 11,8 hektare terdiri dari 9,2 hektare vegetasi mangrove dan 2,6 hektare vegetasi campuran.

Hasil penelusuran dan observasi di tiga pulau tersebut, ditemukan sedikitnya ada 26 jenis mangrove, 14 di antaranya merupakan jenis mangrove sejati, yakni Rhizophora Stylosa, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Ceripos Tagal, Brugulera cylindrica, Avicennia officinalis, Sonneratia alba dan Pemphis acidula.

Sedangkan 12 jenis lainnya merupakan mangrove asosiasi, di antaranya Clerodenrum Inerme, Ipomea pes-caprae, Pongamia pinnata, Casuarina equisetifolia, Pandanus tectorius, Morinda citrifolia, Stachytarpheta jamaicensis, Baringtonia asiatica dan Cocos nucifera.


Tumbuh subur dan rimbun, kata Daniel, ekosistem mangrove di Pulau Kwamor, Keffing dan Geser membentuk area hutan yang indah, dengan alur alami sebagai jalur transportasi yang bisa dilewati sampan dan speed boat, menjadi peluang menarik untuk destinasi ekowisata.

"Masyarakat Seram Timur, mengenal mangrove dengan nama Akat, biasanya disebutkan untuk mangrove jenis Rhizophora spp," kata Daniel.

Dikatakannya lagi, apabila kawasan hutan mangrove di tiga pulau tersebut dijadikan destinasi wisata, maka bisa dikembangkan juga pusat informasi mangrove, di Kecamatan Seram Timur, yang berpusat di Pulau Geser.

Selain itu, bisa juga dibangun kolam sentuh (touch pool) yang didesain secara khusus, agar fauna hutan mangrove seperti ikan, kepiting dan moluska dapat hidup, sebagaimana habitat aslinya, tapi para pengunjung juga bisa berinteraksi secara langsung dan menyentuh mereka.

"Potensi dan sumber daya mangrove yang masih alami, memberikan peluang untuk wisata alam yang luar biasa, tentunya ini juga bisa membantu meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya," ucap Daniel Pelasula. (*)

Editor: Desi Wulandari