POLHUKAM

Serang Ahok, Arya Sinulingga Sedang Jilat Erick Thohir

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Sinulingga. (Net)
Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Sinulingga. (Net)


JAKARTA - Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Sinulingga terkesan lancang dan tidak memiliki kapasitas untuk mengingatkan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) agar tidak merasa menjadi direktur utama.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resource Indonesia (CERI), Yusri Usman dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (30/11/2021).

"Seharusnya Arya membaca terlebih dulu UU BUMN, baru bicara ke media. Selain itu, dia hanya sebagai staf khusus Menteri BUMN, sehingga bukan kapasitas dia mengomentari atas sikap Ahok," kata Yusri.

Dirinya menyebut selaku Komut Pertamina sudah sepantasnya Ahok menjaga proses bisnis agar menjunjung tinggi prinsip Good Corporate Governance (GCG).

Pernyataan Arya, kata dia, dalam mengomentari Ahok adalah sikap salah kaprah yang justru mencoba mengaburkan masalah yang sudah jelas keberadaanya dalam tubuh perusahaan BUMN. Dirinya pun menyarankan agar Arya membaca kembali undang-undang yang berkaitan.


"Arya harusnya baca dulu walau mungkin enggak paham bunyi pasal 31 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, tentang tugas seorang Komisaris BUMN, yakni mengawasi direksi dalam menjalankan kepengurusan persero, serta memberikan nasihat kepada direksi," ujarnya.

Menurutnya, Ahok selaku komisaris berhak dan sudah sepatutnya mengunkap hasil pengawasannya kepada publik, bahkan jika mencurigai adanya praktek-pratek yang merugikan Pertamina Ahok juga berhak melaporkan kepada penegak hukum.

"Bukankah Pertamina itu BUMN yang berarti milik negara dan merupakan perusahaan dari dan untuk kepentingan sebesar-besarnya rakyat Indonesia?," ujar Yusri.

Kepada Info Indonesia, Yusri mengatakan bahwa kemarahan Ahok bukan karena adanya kekecewaan secara pribadi kepada Menteri BUMN, melainkan lebih karena kecewa terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Erick Thohir.

"Ahok bukan kecewa ke pribadi Erick, tetapi terhadap produk kebijakannya, itu yang saya baca. Sebelumnya soal pemilihan direksi dan subholding Pertamina yang terkesan mengabaikan dewan komisaris, terakhir soal rencana akuisisi pabrik mobil listrik Street Scooter Jerman," kata dia.

Menurut dia, Arya Sinulingga bicara menyerang Ahok terkesan seperti pesanan orang yang terganggu atas komentar mantan Gubernur DKI Jakarta itu dalam video yang disiarkan akun YouTube "Panggil Saya BTP".

Dalam videonya, Ahok menyatakan dengan tegas ketidaksetujuannya atas rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) yang akan mengakuisi perusahan mobil listrik StreetScooter di Jerman.

Pendapat Yusri, serangan Arya Sinulingga kepada Ahok di media sebagai upaya menjilat Erick Thohir sebagai penggagas akuisisi mobil listrik tersebut.

"Serangan Arya Sinulingga ke Ahok diberbagai media cetak dan online, itu bagi publik mengesankan upaya pasang badan untuk menjilat sekaligus menyelamatkan muka Erick Thohir sebagai penggagas akuisisi pabrik mobil listrik Jerman Street Scooter itu," tuturnya.


Video Terkait:
Ahok: Lima Tahun Ke Depan SPBU Pertamina Bakal Sepi Pelanggan
Editor: Saeful Anwar