POLHUKAM

PILPRES 2024

Prabowo-Puan Tetap Terdepan

Ilustrasi pasangan Prabowo-Puan. (Net)
Ilustrasi pasangan Prabowo-Puan. (Net)


JAKARTA - Dinamika politik menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 masih terus bergerak dinamis. Siapa yang akan diusung menjadi calon presiden maupun calon wakil presiden nanti juga masih misteri. Termasuk jumlah pasangan capres-cawapres yang akan maju masih jadi pertanyaan.

Lembaga survei New Indonesia Research and Consulting membuat simulasi untuk Pilpres 2024. Dari simulasi itu, terdapat beberapa potensi pasangan yang bisa dihadapkan kepada rakyat Indonesia nanti. Dalam simulasi itu, pasangan capres-cawapresnya adalah Prabowo Subianto-Puan Maharani, Ganjar Pranowo-Ridwan Kamil, dan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Prabowo paling kuat ketika berpasangan dengan Puan Maharani, Ganjar dengan Ridwan Kamil dan Anies Baswedan berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono," kata Direktur Eksekutif New Indonesia Research & Consulting, Andreas Nuryono, melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (30/11/2021).

New Indonesia Research & Consulting melakukan simulasi dengan memasangkan tiga capres terkuat, yakni Ganjar, Prabowo dan Anies Baswedan. Ketiganya berpasangan dengan enam nama yang memiliki peluang kuat maju sebagai calon wakil presiden. Keenam nama tersebut yakni Puan Maharani, Ridwan Kamil, Agus Harimurti Yudhoyono, Sandiaga Uno, Erick Thohir dan Airlangga Hartarto.

Hasilnya, pasangan Prabowo-Puan mendapat dukungan terbesar 50,3 persen dibandingkan jika berpasangan dengan nama-nama yang lain. Pasangan kuat lainnya ialah Ganjar-Ridwan Kamil 45,4 persen dan Anies- Agus Harimurti Yudhoyono 34,3 persen. Menurut Andreas, pasangan Prabowo-Puan merepresentasikan poros koalisi dua partai politik besar, yaitu PDIP dan Gerindra. Sedangkan, Anies-AHY berpeluang didukung oleh poros Nasdem yang dikomandoi oleh Surya Paloh.


"Kuatnya dukungan publik terhadap Prabowo-Puan dan Anies-AHY memperlihatkan mulai terbangunnya dua poros utama," kata dia.

Sementara itu, pasangan Ganjar-Ridwan Kamil berpeluang didukung oleh partai-partai lain yang belum tergabung dalam kedua poros tersebut. Andreas menyebut, pasangan lain yang potensial ialah Ganjar-Erick yang memiliki elektabilitas 30,1 persen dan Prabowo-Sandi 21,3 persen. Pasangan lain dengan Anies relatif lebih tersebar dan angka tidak tahu atau tidak menjawab paling tinggi 10,7 persen.

Menariknya, kata dia, dukungan publik terhadap Airlangga tergolong kecil ketika dipasangkan dengan ketiga nama-nama tersebut.

"Tampaknya berat bagi Golkar untuk memimpin poros politik sendiri," kata Andreas.

Kuatnya nama Prabowo sebagai capres juga didukung hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei dan Analisa Kebijakan Publik (Lanskap). Dalam survei Lanskap, publik masih menjatuhkan pilihannya kepada Ketua Umum Partai Gerindra itu sebagai capres di 2024.

"Ada sebesar 23,0 persen publik yang memilihnya," kata Direktur Eksekutif Lanskap, Mochammad Thoha, dalam keterangannya, kemarin.

Menurut Thoha, dengan dipilihnya Prabowo Subianto tersebut, artinya menunjukan masih besarnya harapan publik terhadap Menteri Pertahanan tersebut.

"Bisa saja menunjukkan masih besarnya harapan publik kepada Prabowo untuk dapat mewujudkan visi misi ekonomi politiknya yang tertunda, tentang mewujudkan negara dan bangsa Indonesia yang demokratis, bersatu, kuat, maju dan makmur," katanya.

Bahkan, meskipun diterpa isu migrasi pemilih yang kecewa terhadap bergabungnya Prabowo ke dalam pemerintahan Joko Widodo, namun elektabilitas mantan Danjen Kopassus itu masih cukup tinggi.

"Mungkin saja dapat diartikan bahwa sebagian pendukung mulai mengerti sikap yang diambil Prabowo untuk persatuan bangsa. Apalagi menyusul bergabungnya Sandiaga Uno seolah-olah ada ajakan untuk mencairkan situasi," katanya.

Thoha menambahkan, posisi berikutnya setelah Prabowo ditempati oleh Anies, Ganjar dan Sandi. Kemudian, diikuti oleh AHY, Ridwan Kamil, Puan Maharani, Airlangga Hartarto dan seterusnya. Dalam survei tersebut, Anies Baswedan menempati posisi kedua dengan persentase 14,1 persen, sementara Ganjar Pranowo mendapatkan 13,6 persen.

"Pilihan publik yang dijatuhkan ke Anies mungkin saja disebabkan karena sosok Anies yang juga pluralis dan religius. Sementara, Ganjar mungkin lebih dikenal sebagai sosok yang popular, karena sering turun ke bawah, terutama di Jawa tengah tempatnya menjabat sebagai Gubernur," ungkapnya.

Dalam hal simulasi pasangan capres-cawapres, hasilnya juga tidak jauh berbeda karena Prabowo-Puan tetap berada di posisi teratas dengan 67,7 persen. Simulasi Prabowo-Anies hasilnya 63,6 persen, Prabowo-Ganjar 62,0 persen dan Prabowo-Sandi 58,7 persen.

Namun jika dibalik, di mana Prabowo sebagai cawapres, persentase keterpilihannya jauh menurun. Tetapi masih tetap menjadi pilihan utama dalam semua simulasi yang menempatkan Prabowo sebagai cawapres.

"Hanya ada sebagian kecil publik memilih Prabowo di posisi cawapres dan bahwa ada sebagian besar publik memilih Prabowo sebagai capres," ungkapnya.

Artikel selengkapnya bisa dibaca di Koran Info Indonesia.


Video Terkait:
Bocah Penyandang Disabilitas ini Trending Youtube
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo