OPINI

Arya Sinulingga Mencoba Mengaburkan yang Sudah Jelas


SIKAP Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga terkesan lancang, telah mengingatkan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok agar tidak merasa menjadi direktur utama. Karena pernyatan Arya itu adalah sikap salah kaprah, alias gagal paham. Malah seolah mencoba mengaburkan yang sudah jelas di bawah matahari.

Seharusnya, Arya membaca terlebih dulu UU BUMN, baru bicara ke media. Selain itu, dia hanya sebagai Staf Khusus Menteri BUMN, sehingga bukan kapasitas dia mengomentari atas sikap Ahok selaku Komut Pertamina, memang harus menjaga proses bisnis di Pertamina, agar menjunjung tinggi prinsip Good Corporate Governance (GCG). Arya harusnya baca dulu, walau mungkin nggak paham bunyi Pasal 31 UU 19/2003 tentang BUMN, terhadap tugas seorang komisaris BUMN, yakni mengawasi direksi dalam menjalankan kepengurusan persero, serta memberikan nasehat kepada direksi.

Dari hasil pengawasannya, Ahok selaku komisaris, memang berhak dan sudah sepatutnya bicara, atau bahkan melaporkan kepada publik, atau penegak hukum, jika mencurigai adanya praktek-pratek yang merugikan Pertamina. Bukankah Pertamina itu BUMN yang berarti milik negara, dan merupakan perusahaan dari dan untuk kepentingan sebesar-besarnya rakyat Indonesia?

Terkesan Arya Sinulingga bicara menyerang Ahok, diduga atas pesanan orang yang terganggu komentar Ahok baru-baru ini. Ahok dalam akun Youtube "Panggil Saya BTP" baru-baru ini menyatakan dengan tegas, ketidaksetujuannya atas rencana BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC) akan mengakuisi perusahan mobil listrik di Jerman, Street Scooter.

Ahok menyatakan kepada direksi PT Pertamina Power Indonesia, sebagai pemegang saham 25 persen IBC, supaya berhati-hati dalam membeli perusahaan untuk bisnis baru, dengan menggunakan dana yang cukup besar. Dia katakan: "Anda mengarang atau memberikan future valuasi dasarnya apa? Ini barang baru lho, harus hati-hati," katanya. Intinya, Ahok mengatakan, dari hasil uji tuntas rencana akuisisi itu menunjukan tidak layak diakuisisi. Bahkan ada info, gara-gara ada penolakan dari Orias Petrus Moerdak dan kawan-kawan sebagai Dirut MIND ID inilah, yang menyebabkan dia dilengserkan oleh Kementerian BUMN.


Diketahui, bahwa MIND ID bersama PT PLN (Persero), PT Pertamina Power Indonesia dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk merupakan pemilik saham masing masing 25 persen di holding IBC. Dengan demikian, serangan Arya Sinulingga ke Ahok di berbagai media cetak dan online itu, bagi publik mengesankan upaya pasang badan, untuk menjilat sekaligus menyelamatkan muka Erick Tohir. Sebagai penggagas akuisisi pabrik mobil listrik Jerman Street Scooter itu.

Konon kabarnya, Direktur Keuangan IBC, Shirly Shinta juga mengundurkan diri dari jabatannya. Karena tidak setuju usulan akuisisi Street Scooter itu. Bahkan infonnya, ada upaya membujuk untuk tidak mengundurkan diri dengan tawaran menjadi Dirut, tetapi Shirly menolaknya, dan konon dia menolak juga diajak ikut bersama rombongan berkunjung ke Jerman.

Yusri Usman
(Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia)

Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo