OPINI

Jalan Panjang Hambat Kelamin



PEMERKOSA 12 santriwati di Bandung, Herry Wirawan (36) didesak, hukum kebiri. Di tengah pro-kontra soal itu. Di fakta, rumitnya hukuman kebiri di Indonesia, walau aturan hukumnya sudah ada.

Para pendesak hukum kebiri, antara lain, Komnas Perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Juga, Komisi VIII DPR RI. Tapi, yang tidak setuju Herry dikebiri, juga banyak. Mulai psikolog sampai politisi. Alasan tidak setuju, variatif. Mulai dari berbiaya mahal. Sampai prediksi bahwa jika dikebiri, kelak setelah Herry sembuh dari kebiri, bakal dendam. Bakal memperkosa lagi, lebih sadis.

Aneka pendapat bersliweran. Di media massa. Di medsos. Namanya juga, Indonesia negara demokratis. Publik bebas berpendapat. Di negara sumber demokrasi (Barat), dikutip dari jurnal ilmiah hukum internasional, Penn State International Law Review (ILR), berjudul: "Belgium, Germany, England, Denmark and the United States: The Implementation of Registration and Castration Laws as Protection Against Habitual Sex Offenders" (terbit 1 Januari 1998) diurai begini: Hukuman kebiri itu gampang. Tinggal putuskan. Beres. Malah, di negara-negara itu (di judul jurnal) dulunya diterapkan pidana kebiri bedah. Testis terpidana diamputasi, abis. Itulah tempat produsen testosteron, hormon seks. Tinggal-lah penis loyo, sebagai jalan urine.

Jurnal ILR menyebutkan: Negara pertama Eropa yang menerapkan hukuman kebiri bagi pemerkosa anak, Swiss, 1892. Lantas diikuti Jerman, Inggris dan seterusnya. Kecuali, negara Eropa yang Katolik, seperti Spanyol, Portugal, Belgia dan Prancis. Kebiri bedah. Yang berarti permanen. Jerman memulai 1933. Jumlah pemerkosa terbanyak di Eropa. Tercatat, 2.800 pria dihukum kebiri, sampai dengan aturan dihapus 1945. Dihapus karena perubahan politik dari era Nazi ke reformasi. Setahun kemudian aturan berlaku lagi. Amerika Serikat memulai lebih awal, 1915. Berlaku di 13 negara bagian. Yang dinalai paling rawan perkosaan. Juga, kebiri bedah. Efek kebiri bedah terhadap aktivitas seks: Nihil. Digambarkan, dengan hilangnya testis, pria berada di kondisi sama dengan sebelum puber. Tanpa gairah seks, bahkan tanpa fantasi seks. Efek terhadap kesehatan: Peningkatan volume keringat. Peningkatan berat badan. Rambut rontok, kulit melunak.

Hasilnya, kejahatan seks merosot drastis. Penjahat takut. Anehnya, ada residivisme. Tercatat, tingkat residivisme di Eropa dan Amerika sekitar 2,2 sampai 3 persen. Artinya, bekas penjahat yang sudah dikebiri, melakukan kejahatan seks lagi. Tanpa penetrasi penis. Tidak dijelaskan, dengan cara bagaimana. Uniknya, bekas penjahat seks yang dikebiri, bukan sedih, justru cenderung gembira. Walaupun sebelum dikebiri mereka sangat takut, bahkan depresi. Setelah dikebiri, karakter yang semula agresif berubah jadi tenang. Kesimpulan itu, dikutip Jurnal ILR dari hasil kebiri yang dirawat di Langley Porter Neuropsychiatric Institute, berbasis laporan ilmiah karya bersama Prof Karl Bouman & Prof Guy Hamilton Crook, bertajuk: "Emotional Changes Following Castration, in Psychiatric Research Reports" (terbit 1954), mengulas beberapa contoh kasus.


Antara lain, terhadap seorang pemuda kulit putih. Begini: Pemuda itu (tak disebut identitas) diriset sejak kecil, agresif. Nakal. Di usia 12 dia memperkosa bocah lebih kecil. Karena di bawah umur, tidak dihukum. Di usia 15, ia memperkosa lagi. Lalu dimasukkan ke lembaga anak-anak bermasalah. Keluar dari lembaga, ia memperkosa lagi. Dan lagi. Di usia 21, ia benar-benar dipenjara. Bebas penjara di usia 24, ia memperkosa lagi. Dipenjara lagi, kali ini dikebiri bedah. Ia bebas di usia 27.

Tim riset meneliti pemuda itu, setelah bebas penjara. Hasilnya: "Ia tidak hanya berinteraksi dengan orang lain lebih baik dibanding sebelumnya, tetapi juga punya kendali diri yang kuat. Bukan hanya kendali seksual, melainkan juga punya kendali agresivitas yang kuat. Tidak gampang marah." Hasil riset itulah, yang disimpulkan: Orang terkebiri hidup lebih tenang dan cenderung gembira. Kebiri bedah diganti jadi kebiri kimia menjelang milenium baru (tahun 2000-an). Jika kebiri bedah memotong testis, kebiri kimia menyuntikkan obat. Berpengaruh ke otak yang berfungsi menimbulkan rangsang seks.

Obat yang paling umum digunakan di Eropa dan Amerika: Depo-Provera. Atau, Phenothiazine. Indikasi dan kontra-indikasi, sama. Ini senyawa hormon wanita yang menekan testosteron. Hasil riset medis, obat itu setelah disuntikkan bakal masuk ke kelenjar pituitari, sistem syaraf pusat. Hasilnya, menurunkan hasrat seksual secara drastis, hampir ke titik nadir. Pelaksana suntik hanya dokter. Dosis menentukan jangka waktu impotensi. Jika kelebihan, terpidana bisa impoten permanen, bahkan mati. (Bersambung)

Djono W Oesman
(Jurnalis Senior)

Artikel ini juga ditayangkan di Koran Info Indonesia. 


Video Terkait:
Eks Wakil Rakyat NTB Lecehkan Putri Kandung
Editor: Wahyu Sabda Kuncahyo