DAERAH

Penutupan Akses Hauling PT BEP Bikin Susah Karyawan dan Merugikan Perusahaan

Ratusan karyawan PT BEP menggelar aksi unjuk rasa di Markas Kepolisia Resor Kutai Kartanegara. (Istimewa)
Ratusan karyawan PT BEP menggelar aksi unjuk rasa di Markas Kepolisia Resor Kutai Kartanegara. (Istimewa)


TENGGARONG - Penutupan jalan hauling membuat PT Batuah Energi Prima (BEP) mengalami kerugian. Bagaimana tidak, akibat penutupan jalan oleh orang yang mengaku pemiliknya itu, membuat karyawan perusahaan tambang batu bara tersebut tidak bisa bekerja.

Ratusan karyawan perusahaan itu pun menggelar aksi unjuk rasa di Markas Kepolisia Resor Kutai Kartanegara, Selasa (21/12/2021) kemarin. Mereka menuntut keadilan atas tindakan oknum yang mengklaim tempat kerjanya dengan melakukan blokade jalan hauling PT BEP, yang sudah berlangsung selama 12 hari.

"Hidup kami tergantung perusahaan ini tempat kami bekerja, kami minta Kapolres Kukar dapat menyelesaikan masalah ini," ujar I Ketut Swardana, perwakilan perusahaan batu bara, dalam orasinya.

Karyawan lainnya bernama Sabarudin Ahmad mengatakan, kerugian yang dialami PT BEP dalam sehari mencapai Rp18 miliar. Itu berdasarkan perhitungan produksi batu bara PT BEP, yang dalam sehari bisa mencapai 12.000 ton.  Saat ini, kata dia, harga batu bara acuan (HBA) berkisar Rp1,5 juta per ton. Jika harga tersebut dikalikan dengan 12.000 ton, maka penghasilan PT BEP per hari adalah Rp18 miliar.

"Jadi, total kerugian kami mencapai Rp216 miliar, dihitung dari Rp18 miliar dikalikan 12 hari," kata dia.


Terkait persoalan tersebut, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kutai Kartanegara, Ajun Komisaris Polisi Dedik Santoso menjelaskan, kasus bermula ketika Direktur PT BEP bernisial IS menjaminkan sejumlah aset perusahaan ke bank beberapa tahun lalu. Alasannya, PT BEP diambang kebangkrutan.

Jamin-menjamin aset itu kemudian masuk pengadilan. Pengadilan lantas mengizinkan PT BEP beroperasi dengan catatan, sebagian asetnya diserahkan ke bank.

Akan tetapi, lanjut Dedik, IS diduga tidak menyerahkan aset tanah yang menjadi jaminan. Tapi menjual sertifikatnya kepada pihak ketiga. Orang yang mengaku membeli sertifikat itu lalu menutup jalan hauling PT BEP di Desa Batuah, Loa Janan, Kutai Kartanegara, menggunakan portal pada Jumat 10 Desember 2021. IS pun sudah tidak menjabat direktur PT BEP.

Sedangkan PT BEP, kata dia, masih merasa memiliki lahan jalan tersebut. Hal itulah yang kemudian membuat ratusan karyawan menggelar aksi turun ke jalan. "Kedua belah pihak ini sama-sama mengklaim tanah itu," kata AKP Dedik.

Adapun orang yang mengaku memiliki lahan jalan hauling itu adalah perempuan berinisial TP. Kuasa hukum TP, Widi Aseno, memastikan penutupan jalan tersebut sesuai aturan, lantaran kliennya adalah pemilik sah lahan jalan tersebut, dengan bukti memiliki akte tanah bernomor 205 Oktober 2021. Penutupan yang dilakukan lantaran PT BEP juga mengklaim lahan tersebut.

"Konteksnya adalah menduduki lahan pribadi. Jadi, kami menguasakan tanah itu kepada masyarakat untuk dijaga," kata Widi.

Dia menyebutkan, gara-gara kasus ini, TP kerap menerima serangan pribadi. Ia meminta hal tersebut dihentikan karena urusan pribadi tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Ia pun mempersilakan jika PT BEP mau bertemu kliennya untuk menyelesaikan masalah.

"Kalau ada pihak yang menyudutkan atau menyerang pribadi klien kami, kami akan menempuh jalur hukum," kata Widi.

Editor: Saeful Anwar