OPINI

Solusi dan Resolusi 2022



MENYONGSONG 2022, resolusi tahun baru akan silih berganti dicanangkan berbagai pihak, baik di hati sanubari maupun di ranah publik.

Resolusi apa yang seharusnya ditetapkan di tengah rentetan kemelut global yang menyebabkan jutaan manusia menderita akibat pandemi, kelaparan, kemiskinan, dan bencana alam?

Kemelut global, seperti krisis iklim dapat dipisahkan dari gangguan konvensional karena dalam kasus global, negara yang menghasilkan polusi tidak selalu mengalami dampaknya.

Dengan kecerdasannya manusia akan terus mengkaji dan mencari solusi teknis untuk mengatasi berbagai masalah di Bumi. Dalam menyikapi krisis global diperlukan kesatuan tanggapan dalam bentuk multilateralisme inklusif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat serta mobilisasi sumber daya secara global, sehingga berbagai negara di bawah koordinasi PBB menyepakati berbagai perjanjian internasional. Contohnya adalah Persetujuan Paris untuk Perubahan Iklim, Konvensi Keanekaragaman Hayati, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Solusi berbagai masalah tidak cukup jika hanya ditinjau dari sisi eksternal seperti kajian teknis dan peraturan internasional, karena sisi internal dari diri pelaku maupun penderita juga perlu diperkuat agar komitmen dan yang ditetapkan dapat dilanjutkan dengan tindakan positif.


Sebilangan peneliti dan praktisi mengembangkan berbagai metode untuk meningkatkan ketangguhan diri menghadapi berbagai tantangan hidup. Sebuah karya yang kondang adalah “Work that Reconnects” yang dikembangkan oleh Joanna Macy dari Amerika Serikat, tokoh yang dihormati dalam gerakan perdamaian, keadilan, dan lingkungan hidup.

Pada prinsipnya “Work that Reconnects” membantu mereka yang menerapkannya untuk menemukan dan mengalami koneksi secara alami antara satu dengan yang lain, ditambah kekuatan penyembuhan diri dalam jaringan kehidupan. Proses ini dapat mengubah keputusasaan dan kewalahan menjadi tindakan kolaboratif yang inspiratif, dalam menanggapi krisis sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Dengan bantuan fasilitator berpengalaman, ada empat tahapan perjalanan spiral yang dilaksanakan melalui pertanyaan dan percakapan secara interaktif, baik dalam waktu beberapa jam maupun beberapa minggu jika ingin lebih mendalam.

Keempat tahapan ini mengikuti urutan spiral yang dimulai dengan  rasa syukur, dilanjutkan dengan menghormati rasa sakit kita untuk dunia, kemudian melihat dengan mata yang segar, dan akhirnya, melangkah ke depan. Runtunan ini mencerminkan urutan yang umum bagi pertumbuhan psikologis dan transformasi spiritual, sehingga peserta dapat menjadi lebih kuat, dan lebih kreatif dalam menghadapi masalah yang ada.

Proses untuk memperkuat sisi internal atau ketangguhan diri dalam menghadapi tantangan berat seperti dikembangkan Joanna Macy bukanlah hal yang asing bagi sebagian masyarakat Indonesia yang juga memiliki ragam tradisi.

Arifah Handayani, seorang praktisi spiritual dan aktivis iklim menjelaskan tentang pengelolaan diri di dalam tradisi Jawa. Dimulai dari menyelami Sangkan Paraning Dumadi yang berarti asal mula kejadian, manusia perlu mengenali setiap elemen di dalam Sang Diri di mana Hambegan atau Napas menjadi jalan masuk ke dalam Hening. Hingga asa, karsa, nalar, dan rasa menjadi satu di kebeningan jiwa. 

Selanjutnya adalah memahami peran manusia dalam Hamemayu Hayuning Bawono yang artinya mempercantik keindahan semesta, dengan perlu selalu eling dan waspada agar cukup peka untuk tanggap sasmita terhadap apapun yang dibutuhkan alam dan sesama manusia.

Manusia yang sadar akan Sangkan Paraning Dumadinya, akan menemukan peran sejatinya untuk Hamemayu Hayuning Bawono, dan bersinergi dengan sesamanya yang memiliki peran saling melengkapi. Manusia akan sadar bahwa keberadaannya di muka Bumi adalah untuk menjadi bagian dari solusi, dan bukan sebaliknya. 

Masalah baru pasti akan terus bertambah, mencerminkan dampak kegiatan manusia yang semakin mencemari lingkungannya demi memenuhi kebutuhan dasar maupun keuntungan ekonomi.

Karenanya, menyongsong 2022, resolusi tahun baru yang perlu dipertimbangkan adalah meningkatkan ketangguhan diri melalui berbagai pelatihan universal maupun tradisional. Dengan demikian manusia akan lebih perkasa dan bijaksana dalam mencari solusi maupun menghadapi berbagai tantangan hidup, baik secara eksternal maupun internal.

Amanda Katili Niode

(Direktur Climate Reality Indonesia)

 

 

Artikel ini juga ditayangkan di Koran Info Indonesia.