POLHUKAM

Tidak Heran Ada Joki Profesor

Ilustrasi. (Net)
Ilustrasi. (Net)


JAKARTA - Keberadaan joki untuk membantu seseorang cepat mendapatkan gelar profesor di Indonesia, tidak asing lagi. Bahkan, Pengamat Pendidikan Ina Liem merasa tidak heran dan tidak kaget dengan realitas seperti itu.

Menurut Ina Liem, hal itu bisa terjadi bukan hanya di tingkat profesor, namun juga di jenjang pendidikan lainnya.

"Kalau saya tidak heran dan tidak kaget ya kalau di Indonesia dari berbagai tingkat itu kan memang selalu ada saja sih ya cara masuk yang tidak beretika," kata Ina Liem saat berbincang dengan Info Indonesia, Sabtu (25/12/2021).

Dirinya mengatakan cara-cara tidak etik dalam dunia pendidikan tersebut juga bisa ditemukan mulai dari cara masuk ke SMA favorit, di mana ada jual beli kursi dan segala macamnya. Sehingga dia percaya bahwa "Profesor Karena Joki" bisa benar adanya.

Dirinya menyadari salah satu masalah yang bisa menyebabkan adanya "profesor karena joki" disebabkan lemahanya syarat menjadi profesor. Dirinya berharap pemerintah bisa memperbaiki sistem yang ada, agar lebih selektif.


"Dari syarat untuk menjadi profesor menurut saya memang perlu dilengkapi, jadi saya setuju salah satunya ada proses wawancara atau presentasi, sekarang mau lulus S1 saja ada proses wawancara, itu mau jadi profesor kok enggak ada," katanya.

Keberadaan joki profesor, kata dia, akan terus ada selama keinginan dari orang-orang untuk mendapatkan gelar tersebut. Tetapi pemerintah bisa meminimalisir apabila syarat menjadi profesor diperketat.

"Ditata lagi yang kebijakannya tadi, syarat masuknya diperketat, kemudian prosedur untuk mendapatkan posisi tersebut juga  harus sesuai etika ya," katanya.

Editor: Saeful Anwar