EKONOMI

Pedagang Berharap Pemerintah Bisa Dongkrak Daya Beli Masyarakat

Kios milik pedagang di Pasar Bendungan Hilir. (Info Indonesia/Moehamad Dheny)
Kios milik pedagang di Pasar Bendungan Hilir. (Info Indonesia/Moehamad Dheny)


JAKARTA - Mendekati akhir tahun 2021, beberapa harga bahan pangan pokok mengalami penaikan. Hal itulah yang membuat pedagang merasa resah, sebab dengan penaikan itu dikhawatirkan daya beli masyarakat menurun.

Seorang pedagang di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Wawan berharap pemerintah mampu mendongkrak daya beli masyarakat, di tengah situasi harga yang tidak bersahabat.

Dirinya menyoroti soal naiknya harga cabai, yang mendekati tahun baru sudah biasa, hanya saja ia berharap pemerintah bisa membantu dengan mendongkrak daya beli masyarakat.

"Kalau saya, harga mahal sudah biasa, tetapi pembelinya ini bagaimana supaya naik," kata Wawan kepada Info Indonesia, di Pasar Jaya Bendungan Hilir, Jakarta, Selasa (28/12/2021).

Saat ini harga cabai rawit di Pasar Jaya Bendungan Hilir mencapai Rp120 ribu per kilogram. Sementara harga tomat masih terbilang normal, yakni Rp14 ribu per kilogram.


Dalam kondisi ekonomi Indonesia yang mulai pulih ternyata tidak diiringi dengan daya beli masyarakat di pasar Bendungan Hilir. Hal itu terbukti ketika harga cabai masih murah, namun daya beli masyarakat juga masih tergolong sangat rendah.

"Terus terang pembelinya turun, kaya kemarin ketika rawit sampai Rp13 ribu tapi nyatanya pasar sepi-sepi juga, terus sekarang sampai seratus lebih apalagi," kata dia.

Sementara Frengki, penjual sembako di Pasar Bendungan Hilir juga memiliki keluhan. Dia berharap agar harga sembako segera mengalami penurunan, karena berdampak pada daya beli masyarakat.

"Harapannya biar turun lagi, kalau pada naik ngaruh ke pembeli, pembelinya ya pelanggan-pelanggan saja, kalau pelanggan baru enggak ada," kata Frengki.

Saat ini, harga minyak di Pasar Bendungan Hilir sudah mencapai Rp20 ribu per liter. Sementara telur ayam negeri, kata dia, mengalami lonjakan, normalnya Rp20 ribu per kilogram, kini mencapai Rp33 per kilogram. Berdasarkan yang dia alami, penaikan harga telur mempengaruhi daya beli masyarakat.

"Yang biasanya beli 5 kilo, sekarang kalau beli paling 2 kilo," ujarnya.

Editor: Saeful Anwar